Medan, NusantaraTop.co – Serangkaian banjir dan longsor hebat kembali menghantam wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Selatan (Tapsel), hingga sebagian Tapanuli Utara (Taput) selama sepekan terakhir. Bencana ini bukan hanya memutus akses antarwilayah dan menelan korban jiwa, tetapi juga memunculkan kembali sorotan publik terhadap aktivitas tambang di kawasan Batang Toru, yang dinilai warga sebagai pemicu kerusakan lingkungan jangka panjang.
Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (25/11/2025) menyebabkan banjir bandang dan longsor besar melanda. Pada Rabu (26/11), puluhan desa masih terendam lumpur dan material sungai. Dampak terparah terjadi di perbatasan Tapsel–Tapteng, ketika jembatan penghubung Desa Garoga (Tapsel) dan Desa Anggoli (Tapteng) putus total dihantam banjir.

Jembatan yang berada dekat Tugu Selamat Datang Tapsel itu kini hanya menyisakan rangka patah. Di sisi jembatan, gelondongan kayu dalam jumlah besar tersangkut, menunjukkan kuatnya arus dan banyaknya material hutan yang terbawa air.
Putusnya jembatan ini melumpuhkan total jalur lintas Tapsel–Tapteng, yang biasa digunakan warga menuju Sibolga dan Padangsidimpuan. Distribusi kebutuhan pokok, layanan darurat, hingga aktivitas ekonomi warga terhenti mendadak.
Tambang Batang Toru Jadi Sorotan Publik
Di tengah situasi darurat, masyarakat kembali mempertanyakan aktivitas tambang di Kecamatan Batang Toru wilayah pegunungan yang selama ini dikenal rawan erosi dan longsor. Sejumlah warga menyebut bahwa perbukitan yang semakin gundul dan aktivitas pembukaan lahan besar-besaran memperparah risiko banjir bandang.
Seorang warga, Vivi, dalam video yang diterima NusantaraTop.co, menampilkan citra satelit Google Maps yang menunjukkan area perbukitan dengan tutupan lahan berubah warna putih-kuning indikasi kawasan yang tidak lagi berhutan. Di bawah lereng-lereng terjal itu, terlihat jelas pemukiman warga.

“Ini daerah pegunungan, ini hutan. Tapi dikeruk. Wajar saja banjirnya mengerikan kalau wilayah seperti ini dibuka. Lahan yang dibuka jauh lebih luas dibanding pemukiman,” ujar Vivi.
Ia juga menyebut sejumlah titik aktivitas perusahaan di sekitar Batang Toru, termasuk kantor-kantor perusahaan terkait serta area tambang emas dan perak yang dioperasikan PT Agincourt Resources (PTAR), anak perusahaan dari PT AR Tambang Raksasa.
Menteri ESDM Turun Tangan: Tambang Martabe Dievaluasi
Di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia angkat suara. Ia menegaskan bahwa Tambang Emas Martabe di Batang Toru akan dievaluasi menyeluruh setelah banjir bandang melanda.
“Kemarin aktivitasnya tidak berlanjut. Saya minta mereka fokus membantu korban, gunakan alat-alat mereka untuk evakuasi,” ujar Bahlil, Kamis (4/12/2025).
Bahlil mengaku telah meninjau langsung lokasi Batang Toru dan kini menunggu hasil evaluasi teknis.
“Tim masih mengecek. Setelah selesai baru kami putuskan. Ada tiga sungai di kawasan itu, dan sungai yang terimbas banjir bukan alur utama yang bersinggungan dengan area tambang,” tegasnya.
PTAR Bantah Menjadi Penyebab Banjir Garoga
Menanggapi tudingan publik, PT Agincourt Resources (PTAR) menyebut bahwa banjir bandang berasal dari Sub-DAS Garoga, bukan dari aliran sungai di area operasi mereka, Sub-DAS Aek Pahu.

Menurut PTAR, penyebab utama banjir adalah:
- Ketidakmampuan Sungai Garoga menampung laju massa air,
- Sumbatan masif gelondongan kayu di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli,
- Penggabungan dua anak sungai menjadi aliran baru yang menerjang langsung Desa Garoga.
“Mengaitkan langsung operasional Tambang Emas Martabe dengan bencana Garoga adalah kesimpulan yang prematur,” tulis PTAR dalam pernyataan resmi (3/12/2025).
PTAR juga menyebut bahwa tidak ditemukan aliran lumpur atau batang kayu besar di Sungai Aek Pahu, berbeda dengan kondisi ekstrem di Sungai Garoga.
Bencana Berulang, Evaluasi Lingkungan Didesak Dipercepat
Meski perusahaan telah memberikan klarifikasi, desakan masyarakat, pemerhati lingkungan, dan warganet semakin kuat. Mereka menuntut evaluasi komprehensif terhadap:
- Pembukaan lahan luas di Batang Toru
- Aktivitas tambang di lereng Bukit Barisan
- Perlindungan daerah hulu sungai
- Manajemen risiko bencana di kawasan pertambangan
Batang Toru adalah kawasan ekosistem penting dan berfungsi sebagai penyangga hidrologis untuk tiga kabupaten. Kerusakan yang terjadi di kawasan itu dalam skala besar akan berdampak langsung ke wilayah hilir seperti Tapsel, Tapteng, dan Taput—yang kini merasakan bencana terparah sepanjang beberapa tahun terakhir. (red/tim)












