Yerusalem, NusantaraTop.co — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah menyetujui kesepakatan ekspor gas alam senilai USD 35 miliar berkisar Rp583,45 triliun ke Mesir, yang disebut sebagai perjanjian gas terbesar dalam sejarah Israel. Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi membantu memperbaiki hubungan kedua negara yang sempat menegang selama dua tahun perang di Jalur Gaza.
Dalam perjanjian ini, gas alam Israel akan dikirim ke Mesir selama 15 tahun melalui perusahaan energi raksasa Amerika Serikat, Chevron, yang merupakan salah satu pemilik utama ladang gas di lepas pantai Israel di Laut Mediterania. Sekitar setengah dari total pendapatan kesepakatan tersebut diperkirakan akan masuk ke kas negara Israel.
Dalam pernyataan video yang direkam dan disiarkan Rabu waktu setempat, Netanyahu mengatakan kesepakatan itu akan memperkuat posisi Israel di kawasan.
“Kesepakatan ini sangat memperkuat posisi Israel sebagai kekuatan energi regional dan berkontribusi terhadap stabilitas di kawasan,” ujar Netanyahu.
Mesir, yang berbatasan langsung dengan Israel dan Jalur Gaza, selama ini berperan sebagai mediator utama antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas, termasuk menjelang gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan disepakati pada Oktober lalu. Namun, Kairo juga kerap menyuarakan kritik keras terhadap ofensif militer Israel yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina serta menyebabkan kerusakan luas di Gaza.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Mesir belum memberikan konfirmasi resmi terkait pengumuman Netanyahu tersebut.
Sebelumnya, Menteri Energi Israel Eli Cohen, yang dikenal sebagai sekutu dekat Netanyahu, sempat menunda kesepakatan dengan alasan syarat perjanjian dinilai tidak menguntungkan Israel. Penundaan itu bahkan mendorong Menteri Energi AS Chris Wright membatalkan rencana kunjungan ke Israel pada Oktober lalu.
Namun, Cohen akhirnya berdiri mendampingi Netanyahu dalam pengumuman resmi Rabu malam dan menyatakan mendukung ketentuan akhir kesepakatan tersebut.
Israel diketahui menemukan cadangan gas alam besar di lepas pantai Mediterania pada awal 2000-an dan mulai mengekspor gas hampir satu dekade lalu, pertama ke Yordania, kemudian ke Mesir.
Dalam perkembangan terpisah, parlemen Jerman menyetujui perluasan kesepakatan pertahanan terkait sistem pertahanan rudal canggih Arrow 3 milik Israel. Kementerian Pertahanan Israel menyebut nilai kesepakatan tersebut meningkat dari USD 3,5 miliar menjadi USD 6,5 miliar, menjadikannya kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah Israel.
Jerman memutuskan membeli sistem Arrow 3 sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan udaranya di tengah meningkatnya ancaman dari Rusia.(red)
Sumber : APNews
Editor : Pahotan M Hutagalung












