MancanegaraRagam

Badai Musim Dingin Terparah 60 Tahun Lumpuhkan Asia dan Rusia

×

Badai Musim Dingin Terparah 60 Tahun Lumpuhkan Asia dan Rusia

Sebarkan artikel ini
Wilayah Timur Jauh Rusia tertutup salju setebal beberapa kaki akibat badai musim dingin terparah dalam 60 tahun terakhir, Selasa (20/1/2026). Gelombang udara dingin ekstrem juga memicu salju langka di Shanghai serta melumpuhkan penerbangan di wilayah barat laut Jepang. Foto: Tangkapan Layar Reuters (X)

Moskow, NusantaraTop.co – Wilayah Timur Jauh Rusia dilanda badai salju terparah dalam 60 tahun terakhir, Selasa (20/1/2026), ketika gelombang udara dingin ekstrem menyapu sebagian besar Asia. Dampaknya terasa hingga ke China dan Jepang, menyebabkan gangguan transportasi, penutupan jalan, hingga pembatalan penerbangan.

Cuaca ekstrem tersebut membuat kawasan Timur Jauh Rusia lumpuh. Jalan-jalan ditutup di sejumlah wilayah China, ribuan penumpang pesawat terdampar di Jepang, sementara sebagian wilayah Rusia tertutup salju setinggi beberapa meter.

Para ilmuwan menyebut fenomena ini dipicu oleh gelombang udara dingin dari Kutub Utara yang bergerak bersamaan ke wilayah Rusia Timur dan Asia, serta gelombang lain yang memengaruhi Eropa Timur.

“Ada dua gelombang udara dingin yang turun secara bersamaan dari Arktik akibat pola berombak pada jet stream,” ujar ilmuwan iklim Theodore Keeping dari World Weather Attribution, Imperial College London.

Menurut Keeping, pusaran kutub Arktik atau Arctic polar vortex saat ini berada dalam kondisi lemah. Hal tersebut membuat aliran jet stream tidak stabil dan memicu turunnya massa udara dingin ke wilayah selatan.

Wilayah Timur Jauh Rusia tertutup salju setebal beberapa kaki akibat badai musim dingin terparah dalam 60 tahun terakhir Selasa 2012026 Gelombang udara dingin ekstrem juga memicu salju langka di Shanghai serta melumpuhkan penerbangan di wilayah barat laut Jepang<br >Foto Tangkapan Layar Reuters X

Salju Setinggi Meteran di Rusia Timur

Di Semenanjung Kamchatka, Rusia Timur, timbunan salju setinggi beberapa meter menutup pintu-pintu bangunan dan mengubur kendaraan. Data stasiun pemantau cuaca mencatat lebih dari dua meter salju turun sepanjang paruh pertama Januari, setelah sebelumnya wilayah tersebut diguyur 3,7 meter salju pada Desember lalu.

Banyak kendaraan nyaris tertimbun seluruhnya. Mobil berpenggerak empat roda pun kesulitan melintas atau terjebak di jalan. Warga terlihat menggali jalur sempit di antara tumpukan salju untuk mencapai pintu apartemen.

Di kota pelabuhan Petropavlovsk-Kamchatsky, warga bahkan terlihat berjalan di atas gundukan salju setinggi lampu lalu lintas. Beberapa di antaranya menjadikan tumpukan salju tersebut sebagai sarana hiburan.

“Rasanya seperti berada di tengah bukit pasir,” ujar warga sekaligus blogger lokal, Polina Tuichieva, menggambarkan kondisi salju di kota yang berjarak sekitar 6.800 kilometer dari Moskow tersebut.

Shanghai Alami Salju Langka

Sistem cuaca yang sama bergerak ke selatan China dan membawa suhu rendah ekstrem, termasuk salju langka di Shanghai. Kota pusat keuangan itu terakhir kali mengalami salju lebat pada Januari 2018.

“Ini pertama kalinya saya melihat salju setebal ini di Shanghai,” kata Li Meng, mahasiswa berusia 23 tahun.

Fenomena ini menjadi kontras tajam dibandingkan pekan sebelumnya, ketika suhu Shanghai sempat mencapai 20 derajat Celsius. Bahkan, sejumlah pohon osmanthus dilaporkan berbunga akibat suhu hangat yang tidak biasa.

“Cuacanya terasa aneh tahun ini. Minggu lalu masih di atas 20 derajat, sekarang turun di bawah nol dan turun salju,” ujar Yu Xin, warga Shanghai.

Media pemerintah China melaporkan penurunan suhu tajam juga melanda wilayah selatan Sungai Yangtze dan Huai, termasuk Provinsi Jiangxi dan Guizhou. Di Guizhou, suhu diperkirakan turun hingga 10–14 derajat Celsius.

Akibat kondisi es dan salju, otoritas setempat menutup sejumlah ruas jalan utama di 12 provinsi, termasuk Shanxi, Mongolia Dalam, dan Heilongjiang.

Gangguan Perjalanan di Jepang

Di Jepang, angin kencang dan salju lebat melanda wilayah pesisir barat laut, mengganggu perjalanan udara dan darat. Puluhan penerbangan dibatalkan, terutama menuju kawasan ski yang tengah ramai wisatawan.

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan potensi hujan salju lebat di wilayah utara dan barat Jepang pada 21–25 Januari, serta mengimbau masyarakat menghindari perjalanan yang tidak mendesak.

Maskapai ANA Holdings membatalkan 56 penerbangan yang berdampak pada sekitar 3.900 penumpang. Sementara Japan Airlines membatalkan 37 penerbangan yang memengaruhi 2.213 penumpang. Sebagian besar pembatalan ANA terjadi di Bandara New Chitose, dekat Sapporo, Hokkaido.

Badai musim dingin ini menegaskan dampak luas cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi dan memengaruhi kehidupan jutaan orang di berbagai negara Asia dan Rusia.(red)

Sumber : Reuters

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights