Simaninggir, NusantaraTop.co – PT Hutama Karya (HK) meminta masyarakat untuk bersabar terkait pembukaan jalur yang sempat terputus akibat longsor di Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Hingga kini, kondisi jalan dinilai masih riskan dan berisiko untuk dilalui kendaraan umum.
“Kami melarang kendaraan umum, terutama mobil dan truk, melintasi jalur ini karena masih sangat berisiko,” ujar Site Operational Manager PT Hutama Karya, Iskandar Pane, di Simaninggir, Sabtu.
Iskandar menjelaskan, saat ini jalan tersebut hanya diperbolehkan dilalui oleh masyarakat lokal agar aktivitas warga tidak terisolasi akibat terputusnya akses jalan. Namun demikian, pihaknya tetap mengedepankan aspek keselamatan.
“Ini semata-mata soal keselamatan. Kami masih terus melakukan perbaikan dan penguatan jalan,” katanya.
Menurutnya, pembangunan jalur tersebut berada di kawasan curam dengan tebing setinggi sekitar 40 meter, sehingga memerlukan kajian teknis yang matang sebelum dibuka secara permanen untuk kendaraan umum. Saat ini, PT Hutama Karya masih melakukan uji kualitas tanah di lokasi.
“Kami masih dalam tahap kajian dan menunggu hasil uji kualitas tanah,” ucapnya.
Sebagai langkah antisipasi, PT Hutama Karya telah mengalihkan arus lalu lintas dari Tarutung menuju Sibolga melalui jalur alternatif, meski menambah jarak tempuh.
“Kami berharap warga dapat bersabar hingga kondisi benar-benar aman,” tambah Iskandar.
Sementara itu, David, warga Desa Rampa, Kecamatan Sitahuis, mengaku terbantu dengan dibukanya akses jalan tersebut bagi warga lokal. Ia mengatakan jalur tersebut sempat terputus total akibat longsor selama sekitar satu bulan.
“Sejak awal Januari jalan ini sudah bisa dilewati. Kami sangat berterima kasih dan berharap segera dibuka untuk umum,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum bersama PT Hutama Karya terus mempercepat perbaikan jalur lintas Sumatera di Desa Simaninggir yang terdampak longsor. Project Manager PT Hutama Karya, Mikael Turnip, menyebutkan bahwa pengerjaan dilakukan setiap hari.
“Saat ini jalur sudah dapat dilalui warga lokal menggunakan kendaraan roda dua,” kata Mikael.
Ia menjelaskan, pada ruas jalan sepanjang sekitar 500 meter tersebut terdapat empat titik longsor besar yang menyebabkan terputusnya akses penghubung antara Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga.
“Kami menargetkan jalur ini dapat dilalui kendaraan umum pada akhir tahun ini. Untuk sementara, hanya warga lokal yang diperbolehkan melintas,” pungkasnya.(red)












