Bavet, NusantaraTop.co – Aparat keamanan Kamboja menggelar salah satu operasi penegakan hukum terbesar terhadap sindikat penipuan daring (online scam) sepanjang tahun ini. Sebanyak lebih dari 2.000 warga negara asing diamankan dalam penggerebekan kompleks kasino Wan Cheng (A7) di Kota Bavet, Provinsi Svay Rieng, pada 31 Januari 2026.
Berdasarkan keterangan resmi Kementerian Dalam Negeri Kamboja, total 2.044 orang asing ditahan dalam operasi tersebut, termasuk 36 warga negara India yang diduga terlibat dalam jaringan kejahatan siber lintas negara.
700 Personel Diterjunkan
Operasi besar-besaran ini dilaksanakan atas perintah Komisioner Jenderal Polisi Nasional Kamboja, Sar Thet, dengan melibatkan sekitar 700 personel khusus. Penggerebekan menyasar 22 bangunan kasino yang berada di Desa Tabep, Distrik Bavet.
Operasi tersebut dipimpin oleh Wakil Komisioner Jenderal Chiv Phally dan Moeung Sothea, serta berada di bawah pengawasan hukum jaksa dari Pengadilan Provinsi Svay Rieng.
Kota Bavet yang terletak di perbatasan Kamboja–Vietnam selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas penipuan online, mulai dari investasi bodong, penipuan asmara, hingga kejahatan siber berbasis telekomunikasi.
Rincian Warga Negara yang Ditahan
Kementerian Dalam Negeri Kamboja merinci kewarganegaraan para tahanan sebagai berikut:
-
1.792 warga negara China
-
179 warga Myanmar
-
177 warga Vietnam
-
36 warga India
-
30 warga Nepal
-
5 warga Taiwan
-
2 warga Laos
-
1 warga Malaysia
-
1 warga Meksiko
Hingga kini, otoritas setempat belum menjelaskan berapa orang yang akan resmi ditetapkan sebagai tersangka, diproses hukum, atau justru diperlakukan sebagai korban perdagangan manusia dan kerja paksa, isu yang kerap muncul dalam ekonomi penipuan Asia Tenggara.

Sorotan Kerja Sama India–Kamboja
Operasi ini berlangsung tak lama setelah pertemuan tingkat tinggi antara India dan Kamboja. Pada 6 Januari 2026, Menteri Senior Kamboja Chhay Sinarith, selaku Ketua Komisi Pemberantasan Penipuan Online (CCOS), menerima delegasi India yang dipimpin Rajesh Kumar, Kepala Pusat Koordinasi Kejahatan Siber India.
Pertemuan tersebut membahas kerja sama pemberantasan penipuan online yang banyak menjerat warga India, termasuk praktik perekrutan palsu dan pemaksaan bekerja di pusat-pusat scam.
Kedutaan Besar India di Kamboja juga mengonfirmasi tengah memantau kasus yang melibatkan 36 warga negaranya.
“Kamboja Bukan Surga Penjahat”
Menanggapi operasi tersebut, Wakil Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Kamboja, Dr. Touch Sokha, menegaskan komitmen pemerintah memberantas jaringan penipuan daring.
“Kamboja bukan surga bagi penjahat, melainkan neraka bagi penjahat,” tegasnya.
Ia menyebut langkah tegas ini merupakan bagian dari kebijakan nasional yang disetujui sejak Februari 2025, ketika pemerintah membentuk komite nasional khusus untuk memerangi penipuan online, dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Kamboja.
Masih Banyak Pertanyaan
Meski skalanya besar, sejumlah hal masih belum dijelaskan oleh otoritas Kamboja, antara lain:
-
Status hukum para tahanan
-
Dugaan keterlibatan perdagangan manusia
-
Jadwal deportasi atau penuntutan
-
Akses konsuler bagi warga negara asing
Penggerebekan ini dinilai sebagai sinyal kuat pemerintah Kamboja dalam memerangi kejahatan siber global. Namun, efektivitas jangka panjangnya masih bergantung pada proses hukum lanjutan dan konsistensi penegakan di lapangan.(red)
Sumber : The420
Editor : Pahotan M Hutagalung












