Medan, NusantaraTop.co – Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di SPBU Pertamina masih menjadi perhatian masyarakat setelah mengalami kenaikan signifikan pada 10 Juni 2026 lalu.
Di Sumatera Utara, harga Pertamax saat ini berada di level Rp16.650 per liter, naik Rp3.950 dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.
Belakangan, harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan seiring meredanya ketegangan geopolitik setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) dikabarkan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, akan segera turun?
Harga Minyak Dunia Mulai Melandai
Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 5,1 persen pada pertengahan Juni 2026 menjadi 78,9 dolar AS per barel. Angka tersebut merupakan level terendah sejak awal Maret 2026 dan mendekati harga sebelum konflik pecah yang berada di kisaran 72,4 dolar AS per barel.
Pakar ekonomi energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, menilai perdamaian Iran-AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global.
Namun demikian, ia menegaskan penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level Rp12.300 per liter tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
“Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu,” ujarnya.
Menurut Yayan, harga minyak dunia diperkirakan akan turun secara bertahap dengan koreksi sekitar 1 hingga 3 persen per hari dan dapat berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Pertamina: Harga Akan Dievaluasi Berkala
Pjs Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Romi Bahtiar, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax sebelumnya dipengaruhi sejumlah faktor, terutama kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Harga tersebut adalah harga yang telah disepakati oleh pemerintah dan juga Pertamina. Yang mana kenaikan tersebut terjadi karena beberapa faktor, yaitu kenaikan harga minyak dunia dan juga nilai tukar rupiah,” kata Romi.
Meski demikian, Pertamina memastikan tetap menjaga pasokan BBM bagi masyarakat, baik subsidi maupun non-subsidi.
Menurut Romi, kebijakan harga BBM akan terus dievaluasi oleh pemerintah pusat berdasarkan perkembangan harga minyak dunia dan kurs rupiah.
“Tentu saja harga ini akan dievaluasi secara berkala oleh pemerintah pusat. Jadi nanti kita sampaikan juga apabila terjadi kenaikan ataupun penurunan. Karena harga tersebut mengacu kepada nilai tukar rupiah dan juga harga minyak dunia,” ujarnya.
Konsumsi Beralih dari Pertamax ke Pertalite
Kenaikan harga Pertamax sebelumnya sempat memicu aksi protes ratusan pengemudi ojek online di Medan.
Dalam dialog dengan massa aksi, Pertamina mengakui terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah kenaikan harga BBM non-subsidi.
“Kami melihat adanya peralihan konsumsi dari BBM jenis Pertamax ke Pertalite. Karena mungkin masyarakat ataupun ojol melihat adanya kenaikan BBM Pertamax,” kata Romi.
Akibatnya, sejumlah SPBU mengalami antrean lebih panjang pada produk Pertalite. Namun Pertamina memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan stok, melainkan meningkatnya permintaan.
Harga BBM Tidak Hanya Dipengaruhi Harga Minyak Dunia
Ekonom lulusan Universitas Indonesia dan University of Amsterdam, Josua Pardede, menjelaskan bahwa harga BBM di Indonesia tidak selalu bergerak sejalan dengan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, harga yang dibayar masyarakat di SPBU merupakan gabungan dari berbagai komponen, mulai dari harga BBM jadi di pasar regional, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, distribusi, margin badan usaha hingga pajak.
“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata,” jelas Josua.
Apakah Harga Pertamax Akan Turun?
Berdasarkan pandangan para pengamat dan keterangan Pertamina, peluang penurunan harga Pertamax memang terbuka jika harga minyak dunia terus turun dan nilai tukar rupiah stabil.
Namun penurunan tersebut diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak serta-merta mengembalikan harga Pertamax ke level Rp12.300 per liter dalam waktu dekat.
Masyarakat masih harus menunggu hasil evaluasi berkala pemerintah dan Pertamina yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak global serta kurs rupiah terhadap dolar AS.(red)












