KesehatanNasional

Kemenkes Tarik Investasi Takeda Bangun Pabrik Plasma Darah, Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

×

Kemenkes Tarik Investasi Takeda Bangun Pabrik Plasma Darah, Perkuat Ketahanan Kesehatan Nasional

Sebarkan artikel ini
Foto Dok. Kemenkes RI

Jakarta, NusantaraTop.co – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) berhasil menarik investasi asing berskala besar di sektor hilirisasi industri kesehatan. Sepanjang 2026, pemerintah mengamankan komitmen investasi dari perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah (Plasma Derived Products/PDP) di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan investasi tersebut merupakan bagian dari implementasi Pilar Ketiga Transformasi Kesehatan, yakni memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui kemandirian produksi obat dan vaksin di dalam negeri.

Menurutnya, pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting karena Indonesia sempat mengalami kelangkaan alat pelindung diri (APD), masker, reagen PCR, vaksin, hingga obat-obatan esensial akibat tingginya ketergantungan pada produk impor.

“Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor VIII, dan Faktor IX,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7/2026).

Indonesia Punya Potensi Besar Produksi Plasma Darah

Menkes menjelaskan, PDP merupakan obat yang digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu proses pembekuan darah. Produk tersebut dihasilkan melalui proses fraksionasi atau pemisahan plasma dari darah manusia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam penyediaan bahan baku plasma darah.

“Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi,” tegasnya.

SK Plasma Rampungkan Pabrik Pertama

Untuk mendukung kemandirian industri kesehatan, Kemenkes telah melonggarkan regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023.

Kebijakan tersebut sebelumnya berhasil menarik investasi perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan, SK Plasma, yang bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA).

Pabrik SK Plasma dengan nilai investasi sekitar USD 300 juta dan kapasitas produksi 600.000 liter plasma per tahun telah rampung dibangun pada 2026.

Fasilitas tersebut menjadi pabrik fraksionasi plasma pertama di Indonesia dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2027 setelah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Takeda Bangun Pabrik Plasma Kedua

Keberhasilan pembangunan pabrik pertama disusul dengan masuknya Takeda, salah satu produsen produk turunan plasma darah terbesar di dunia.

Perusahaan asal Jepang itu akan membangun fasilitas fraksionasi plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi yang lebih besar dibandingkan pabrik sebelumnya.

Produksi Vaksin Dalam Negeri Terus Diperkuat

Selain pengembangan industri plasma darah, pemerintah juga terus memperkuat produksi vaksin nasional.

Kemenkes telah mendorong operasional dua pabrik vaksin berskala besar, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.

Khusus PT Biotis, perusahaan tersebut juga mengembangkan Vaksin Merah Putih, hasil riset ilmuwan Indonesia yang diharapkan mampu memperkuat kemandirian vaksin nasional.

“Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri,” tutup Menkes Budi.(red)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *