Tangerang, NusantaraTop.co – Periset dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa, memaparkan potensi dampak serius pencemaran pestisida di Sungai Cisadane pascakebakaran gudang yang menyebabkan tumpahan zat kimia ke aliran sungai.
Ignasius menjelaskan, residu pestisida yang masuk ke badan air berisiko memicu bioakumulasi dan biomagnifikasi. Proses ini terjadi ketika zat kimia atau metabolitnya terakumulasi dalam jaringan organisme air, lalu berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tersebut.
“Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis,” ujar Ignasius seperti dilansir Antara, Minggu (15/2/2026).
Ia menambahkan, kontaminasi berpotensi mengendap di sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang. Artinya, meskipun air permukaan tampak kembali jernih, ancaman toksik bisa tetap tersimpan di lapisan sedimen dan terlepas kembali ke kolom air dalam kondisi tertentu.
Dari sisi kesehatan publik, paparan pestisida dapat terjadi melalui kontak langsung seperti mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah tercemar.
Ignasius mengingatkan, sejumlah jenis pestisida—terutama yang bersifat neurotoksik—dapat menimbulkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, hingga kematian, tergantung pada dosis paparan.
“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan risiko karsinogenik,” ungkapnya.
Untuk mitigasi jangka pendek, BRIN merekomendasikan penutupan sementara intake air baku PDAM di zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk keperluan apa pun sampai dinyatakan aman.
Selain itu, upaya netralisasi atau remediasi in-situ perlu dilakukan apabila sumber pencemaran masih teridentifikasi.
Ignasius juga menekankan pentingnya strategi jangka panjang, mulai dari penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, hingga diversifikasi sumber air baku guna meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.
Menurutnya, restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian menjadi langkah krusial untuk meningkatkan kapasitas alami sungai dalam menyaring polutan.
“Kepada masyarakat, kami mengimbau agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah dan PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan bahwa air telah aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” pungkasnya.(red/dtc)












