Ekonomi & BisnisNasionalPertanian

Bulog Sumut Siap Serap Jagung Petani Rp6.500/Kg, Targetkan Stok 28.000 Ton

×

Bulog Sumut Siap Serap Jagung Petani Rp6.500/Kg, Targetkan Stok 28.000 Ton

Sebarkan artikel ini

MEDAN, NUSANTARATOP.CO – Kantor Wilayah Perum Bulog Sumatera Utara menyatakan kesiapannya untuk menyerap hasil panen jagung petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini bertujuan membantu petani sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional.

Kepala Kanwil Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menegaskan pihaknya tidak membatasi jumlah penyerapan jagung dari petani.

“Prinsip kami membantu petani. Berapa pun jagung yang dijual, kami siap menyerapnya,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menugaskan Bulog menyerap hingga 1 juta ton jagung secara nasional untuk cadangan pemerintah.

Pada tahun 2026, Bulog Sumatera Utara menargetkan ketersediaan stok jagung mencapai 28.000 ton. Selama ini, pasokan jagung berasal dari sejumlah daerah sentra produksi seperti Kabupaten Karo, Dairi, Deli Serdang, dan Simalungun.

Saat ini, stok cadangan jagung di gudang Bulog Sumut tercatat sebanyak 4.156 ton. Namun, stok tersebut belum dapat disalurkan kepada peternak petelur karena masih menunggu persetujuan dari Badan Pangan Nasional.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumut, Yusfahri Peranginangin, menyebutkan bahwa Sumatera Utara masih mengalami surplus produksi jagung.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, produksi jagung di Sumut mencapai 1.495.705 ton, sementara kebutuhan hanya 1.451.670 ton, sehingga terjadi surplus sekitar 44.036 ton.

Memasuki periode Januari hingga Maret 2026, produksi diperkirakan mencapai 480.447 ton dengan kebutuhan sekitar 373.039 ton. Dengan demikian, surplus kembali terjadi sebesar 107.407 ton.

“Kondisi ini menunjukkan Sumatera Utara masih kelebihan pasokan jagung,” ujarnya.

Ia menambahkan, sentra produksi jagung terbesar berada di Kabupaten Karo, disusul Dairi, Simalungun, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan. Sekitar 80 persen produksi jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara sisanya digunakan sebagai bahan baku tepung.

Menanggapi kondisi surplus tersebut, Budi mengaku belum mengetahui secara pasti ke mana seluruh hasil panen petani dipasarkan. Meski demikian, Bulog tetap berkomitmen menyerap jagung petani sebanyak mungkin sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah, guna menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani.(red)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights