Tarutung, NusantaraTop.co – Tokoh Politik Sumatera Utara, Juliski Simorangkir, mengkritisi keras kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait penanganan pasokan BBM di wilayah terdampak banjir dan longsor di Tapanuli.
Juliski menilai pernyataan Menteri ESDM yang menyebut antrian BBM telah teratasi tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
“Menteri ESDM Bahlil jangan hanya omon-omon menyatakan antrian BBM sudah teratasi,” ujarnya di Tarutung.
Menurutnya, hingga hari ke-12 pascabencana, warga di Tarutung dan Humbang Hasundutan masih harus mengantre BBM dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Ia memaparkan, antrian BBM di SPBU mencapai tiga lapis, mengular hingga 10 kilometer, belum termasuk antrian sepeda motor lima lapis dan warga yang membawa jeriken untuk kebutuhan mendesak.
“Sudah hari ke-12 setelah bencana, tapi Bahlil tak mampu mengirim BBM ke daerah terdampak. Tolonglah Pak Prabowo lakukan langkah cepat sebelum masyarakat anarkis,” tegasnya.
Baca Juga : Bahlil dan Dirut Pertamina Turun ke Lokasi Banjir, Distribusi BBM Dialihkan Lewat Laut & Udara
Antrian Warga Ganggu Aktivitas Ekonomi
Juliski menambahkan bahwa keterlambatan distribusi BBM berdampak langsung pada lumpuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak warga tidak bisa bekerja, alat berat terkendala bahan bakar, dan logistik terhambat.

Ricuh di SPBU Tarutung
Situasi di lapangan juga memanas. Berdasarkan unggahan akun Facebook Sahabat Tapanuli, antrian panjang di SPBU Tarutung sempat ricuh dan tidak terkendali. Sistem antrian jeriken yang diikat menggunakan tali justru menimbulkan keributan karena banyak warga berebut giliran.
Dalam video yang beredar, terlihat petugas SPBU kewalahan memanggil nama yang tertulis pada jeriken sambil berupaya menenangkan massa yang mendesak agar segera mendapatkan BBM.
Respons Menteri ESDM
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri melakukan kunjungan kerja ke wilayah darurat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 2–3 Desember 2025.
Bahlil menyatakan bahwa pasokan energi secara umum aman, namun distribusi terkendala karena banyak jalan dan jembatan putus.
“Ini yang menjadi persoalan. Tapi sekarang kita pakai cara lain, ada beberapa wilayah pakai pesawat, ada juga yang pakai rakit,” ujar Bahlil, seperti dikutip dari situs resmi Pertamina.
Ia juga meminta SPBU di wilayah terdampak untuk beroperasi 24 jam atau menyesuaikan kondisi lapangan guna memastikan suplai BBM bagi ambulans, alat berat, dan logistik bencana tetap terpenuhi.(red/tim)












