Medan, NusantaraTop.co – Kritik keras terhadap penanganan banjir bandang di Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga mencuat dari unggahan akun TikTok @bang.engran.silalahi, Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 18.00 WIB. Video tersebut viral dengan 72,5 ribu tayangan, 4,9 ribu komentar, dan telah dibagikan lebih dari 7,7 ribu kali, memicu perdebatan luas di media sosial.
Dalam video itu, Engran Silalahi, yang menyebut dirinya sebagai Guru Peradaban dari Sumatera Utara, menyampaikan analisis keras mengenai banjir bandang yang membawa gelondongan kayu di berbagai wilayah Tapteng–Sibolga. Ia menilai bahwa bencana tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh cuaca ekstrem, melainkan mengungkap adanya persoalan serius di hulu sungai dan kawasan hutan.
“Banjir Bandang Tidak Menebang Pohon”
Engran menyoroti fenomena banjir bandang yang membawa kayu gelondongan berukuran besar di sejumlah sungai.
“Banjir bandang boleh datang dari langit, tapi gelondongan kayu tidak pernah jatuh dari awan. Hujan deras bisa membawa air, tapi tidak mungkin membawa batang kayu sebesar tiang listrik kalau tidak ada yang memotongnya,” ujarnya dalam video.
Ia juga menyinggung tambang-tambang liar yang disebutnya “menembus perut gunung”, serta penggundulan hutan yang menurutnya berlangsung tanpa pengawasan ketat.
Pertanyaan Tajam untuk Pejabat Daerah
Engran menyinggung para kepala daerah di wilayah hulu dan hilir sungai, termasuk Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, serta pemerintah di Taput, Tapsel, dan Tapteng.
Ia mempertanyakan mengapa kayu gelondongan bisa hanyut di sungai Batang Toru, sungai Pinangsori, hingga tersangkut di jembatan Anggoli.
“Apa yang terjadi di hulu sungai sehingga kayu gelondongan nyangkut di jembatan setiap kali hujan? Hujan yang menebang pohon? Atau malaikat sedang praktek tebang pilih?” sindirnya.
Menurut Engran, gelondongan itu bukan ranting kecil atau sampah rumah tangga, tetapi batang pohon besar yang memerlukan gergaji mesin serta izin resmi.
“Ini Bukan Bencana Alam, Ini Skandal Kebijakan”
Dalam video tersebut, Engran menyebut bahwa pemerintah sering menyalahkan cuaca ekstrem setiap kali banjir besar terjadi. Padahal, menurutnya, gelondongan kayu yang hanyut menunjukkan adanya dugaan pembiaran dan lemahnya penegakan hukum.
“Ini bukan bencana alam. Ini bocornya skandal kebijakan. Ini kegagalan pengawasan. Ini rapor merah penegakan hukum,” tegasnya.
Ia menilai banjir bandang kali ini seolah “membuka buku besar perusakan hutan” yang selama ini tertutup.
Banjir Bukan Sekadar Air — Tetapi Bukti
Engran menutup kritiknya dengan pernyataan bahwa bencana ini bukan hanya merusak wilayah Tapanuli, tetapi juga mencoreng wibawa pemerintah.
“Jika gelondongan sebesar itu bisa hanyut, yang hanyut bukan hanya pohon, tapi wibawa pemerintah. Selama ini kalian tutup mata. Sekarang lihatlah apa yang kalian biarkan terjadi.”
Postingan ini terus menuai respons netizen, sebagian mendukung analisis Engran, sebagian lagi menunggu klarifikasi dan langkah tegas dari pemerintah daerah dan instansi penegak hukum.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












