Medan, NusantaraTop.co —
Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Pemuda Nusantara (AMPUN) menggelar unjuk rasa di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Mapoldasu) dan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Jumat (10/10/2025) siang.
Dalam aksinya, massa menuntut aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan penyelewengan proyek pembangunan jalan di Desa Sibulele serta mangkraknya proyek pembangunan aula di Desa Sirambutan, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).
Koordinator aksi, Josua Situmorang, dalam orasinya di depan Mapoldasu menyebutkan bahwa proyek pengerasan jalan di Desa Sibulele diduga kuat bermasalah dan berpotensi merugikan keuangan negara.
“Kami meminta Kapolda Sumut untuk segera mengaudit proyek pengerasan jalan di Desa Sibulele karena kami menduga ada indikasi penyimpangan anggaran. Uang rakyat harus digunakan dengan benar dan transparan,” tegas Josua.
Selain itu, AMPUN juga menyoroti proyek pembangunan aula di Desa Sirambutan yang hingga kini tak kunjung rampung dan terbengkalai.
“Proyek aula di Desa Sirambutan terkesan dibiarkan mangkrak. Kami meminta Kapolda Sumut memeriksa dan mengaudit proyek tersebut, agar masyarakat tahu kemana sebenarnya anggaran pembangunan itu dialokasikan,” tambahnya.

Lanjutkan Aksi ke Kejatisu
Usai menyampaikan tuntutan di Mapoldasu, massa AMPUN kemudian melanjutkan aksinya ke Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara di Jalan AH Nasution, Medan.
Begitu tiba di depan kantor Kejatisu, para demonstran kembali menggelar orasi dengan membawa spanduk bertuliskan seruan penegakan hukum. Tuntutan mereka tetap sama, yakni meminta Kejati Sumut untuk turun tangan memeriksa dan mengaudit dua proyek di Kabupaten Tapanuli Selatan tersebut.
“Kami mendesak Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara agar segera memanggil dan memeriksa pihak pelaksana proyek serta instansi terkait, karena pembangunan tersebut kami nilai tidak tepat sasaran,” seru salah satu orator aksi.
Soroti Kesenjangan dan Ketimpangan
Massa juga menyoroti bahwa proyek aula di Desa Sirambutan tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Banyak rakyat di daerah itu masih hidup kekurangan, tapi proyek aula justru mangkrak dan tidak bisa digunakan. Ini bentuk pemborosan anggaran yang harus diusut tuntas,” ujar seorang pengunjuk rasa lainnya.
Aksi yang berlangsung tertib itu mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Setelah menyampaikan aspirasi dan menyerahkan pernyataan sikap, massa AMPUN membubarkan diri dengan tertib.(*)
Editor: Redaksi NusantaraTop.co












