Medan, NusantaraTop.co – Liputan media asing kembali menyoroti parahnya bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara. Stasiun berita internasional CNA (Channel News Asia) menurunkan laporan langsung dari lokasi terdampak, menggambarkan betapa sulitnya proses evakuasi dan pemulihan di daerah paling parah, khususnya Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah.
Dalam liputannya, seorang wanita jurnalis CNA Chandni Vatvani tampak berdiri di atas hamparan lumpur setebal sekitar lima meter yang menutupi jalan utama penghubung Tapanuli Utara – Tapanuli Tengah, jalur vital yang sudah delapan hari tidak dapat dilalui.
“I’m standing on about five meters of mud covering the road connecting North Tapanuli to Central Tapanuli, the hardest hit regency in North Sumatra. Officials have been trying to clear this path for eight days now. And they tell me that access to the regency is completely cut off via this road, hampering evacuation, recovery, and aid.”
CNA juga melaporkan bahwa tim gabungan masih berusaha mengevakuasi korban yang diduga tertimbun di bawah rumah-rumah yang hancur diterjang banjir bandang dan longsor.
“At the moment, officials are trying to evacuate those deceased who are trapped under these collapsed homes,” jelas Vatvani dalam laporannya.
Warga: “Belum pernah separah ini”
Warga yang ditemui jurnalis mengaku bahwa bencana kali ini merupakan yang terburuk yang pernah mereka alami.

Salah seorang warga Tapanuli Utara Rohmita mengatakan:
“Itu posisinya kami pas malam dan sebagian orang turun pas malam itu melewati air dari belakang rumah-rumah ini, udah segini airnya (setinggi dada-red).”
“Sudah satu minggu tidak bisa buka, padahal dari sininya pencaharian saya.” kata Rohmita terhadap wartawan CNA
Warga lainnya, Tiurma Sihombing menggambarkan kondisi akses yang semakin sulit:
“Mencapai di sini tidak mudah, aksesnya sulit. Jalan-jalan terbentuk, terbentuk, dan beberapa juga terjatuh,” ungkapnya
Dampak Meluas: Transportasi, Logistik, dan Ekonomi Terganggu
CNA juga menyoroti persoalan logistik dan transportasi yang ikut terhenti akibat bencana.
“Pembuatan adalah masalah, dengan kendaraan dan truk-truk menunggu untuk memenuhi tangki mereka selama jam-jam.”
Lebih dari seminggu setelah bencana, pemerintah masih berjibaku melakukan pembersihan akses, evakuasi, dan distribusi bantuan.
“Lebih dari seminggu setelah bencana, pemerintah sedang bekerja keras untuk melepaskan semangat dan bengkak, dan terlihat seperti akan mengambil lebih banyak waktu.”
Pemerintah: Upaya Pemulihan Berlanjut
Hingga kini, petugas gabungan dari berbagai instansi masih bekerja dalam kondisi medan yang berat. Proses pembukaan akses diprediksi membutuhkan waktu lebih lama mengingat tebalnya material longsor, cuaca yang tidak menentu, serta kerusakan infrastruktur di banyak titik.
NusantaraTop.co terus memantau perkembangan dan akan memberikan pembaruan terbaru terkait operasi pencarian, evakuasi, dan penanganan bencana di Sumatera Utara. (red)
Editor : Pahotan M Hutagalung












