Ekonomi & BisnisNewsRagamTeknologi & Digital

Netflix Hadapi Keraguan Regulator atas Rencana Akuisisi Warner Bros Discovery Senilai USD 72 Miliar

×

Netflix Hadapi Keraguan Regulator atas Rencana Akuisisi Warner Bros Discovery Senilai USD 72 Miliar

Sebarkan artikel ini
Keterangan Foto: Foto udara menampilkan logo Netflix pada salah satu gedung kantor mereka di kawasan Hollywood, Los Angeles, California, 8 Desember 2025. (REUTERS)

Medan, NusantaraTop.co – Rencana raksasa streaming Netflix untuk mengakuisisi Warner Bros Discovery (WBD), termasuk studio serta layanan HBO Max, dipastikan akan menghadapi pengawasan ketat dari regulator Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya. Kesepakatan senilai USD 72 miliar itu berpotensi menciptakan gabungan raksasa dengan total 428 juta pelanggan global.

Netflix beralasan akuisisi ini diperlukan agar perusahaan dapat bersaing dengan YouTube milik Alphabet, yang menurut firma riset Nielsen kini menjadi distributor TV paling banyak ditonton di Amerika Serikat. Namun sejumlah pakar persaingan usaha menilai argumen tersebut lemah dan tidak akan mudah diterima oleh Departemen Kehakiman (DOJ) AS.

Menurut Abiel Garcia, mitra di firma hukum Kesselman Brantly Stockinger, Netflix memposisikan YouTube sebagai pesaing langsung karena sama-sama berebut waktu tontonan pengguna. “Netflix berupaya mengatakan bahwa mereka bersaing dengan YouTube karena orang hanya punya waktu terbatas untuk menonton. Namun argumen itu pada akhirnya gagal,” ujarnya.

Model Bisnis Berbeda, Regulator Dinilai Tak Akan Tertukar

Netflix menghabiskan miliaran dolar untuk memproduksi konten orisinal seperti Stranger Things dan KPop Demon Hunters, serta rutin mendominasi daftar konten original terpopuler menurut Nielsen. Layanan ini mengandalkan model berlangganan berbayar mulai dari USD 7,99 hingga USD 24,99 per bulan, dengan iklan sebagai pendapatan tambahan yang masih relatif kecil.

Sebaliknya, YouTube berkembang melalui konten buatan pengguna (UGC) dan pendapatan iklan. Platform ini menguasai waktu tonton lebih besar dibanding Netflix maupun TV tradisional, diperkuat oleh para kreator besar seperti MrBeast, serta konten musik dan anak-anak seperti Cocomelon.

Pada Oktober 2025, YouTube memegang 12,9% pangsa pemirsa streaming, sementara Netflix—setelah digabung dengan HBO Max—diperkirakan hanya meraih sekitar 9%.

Robin Crauthers, mantan pengacara antitrust DOJ yang kini menjadi mitra di McCarter & English, menilai regulator tidak akan menganggap konten YouTube sebagai substitusi konten Netflix maupun HBO Max. “Netflix akan kesulitan menyatakan bahwa YouTube dapat menggantikan jenis konten yang mereka tawarkan,” ujarnya.

Preseden Hukum: Regulator Fokus pada Pasar Khusus

Pengawasan terhadap merger biasanya memeriksa apakah penggabungan perusahaan akan mengurangi persaingan di sub-pasar tertentu. Beberapa contoh yang pernah terjadi:

Akuisisi Whole Foods–Wild Oats: FTC meyakinkan hakim bahwa merger tersebut mengurangi persaingan di segmen supermarket premium organik, meski Whole Foods berargumen bahwa mereka bersaing dengan semua toko grosir.

Merger Tapestry–Capri: Pengadilan memblokir akuisisi produsen merek Coach terhadap Capri (pemilik Michael Kors dan Versace) setelah dokumen internal membuktikan keduanya memang bersaing di segmen “accessible luxury”.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa argumentasi luas tentang “banyaknya pesaing di industri” sering gagal ketika dokumen internal perusahaan menunjukkan kategori pasar yang lebih spesifik.

Dokumen Internal Netflix Berpotensi Menentukan

Reformasi terbaru proses persetujuan merger mewajibkan perusahaan untuk menyerahkan analisis kompetisi internal lebih awal. Hal ini, menurut mantan pengacara FTC Shaoul Sussman, dapat menguntungkan pemerintah dalam investigasi.

“Jika dokumen internal Netflix tidak menempatkan YouTube sebagai pesaing utama, atau hanya fokus pada layanan berlangganan berbayar, itu bisa melemahkan argumen mereka,” kata Sussman.

Netflix sebelumnya juga mengklaim merger ini dapat menurunkan biaya bagi sebagian besar pelanggan HBO Max yang juga merupakan pelanggan Netflix, melalui paket bundel. Namun DOJ dikenal skeptis terhadap klaim efisiensi biaya dan akan mempertimbangkan risiko kenaikan harga bagi pengguna yang tidak memilih paket bundel.

Proses investigasi akan segera berjalan setelah dokumen dan data diserahkan kepada regulator. Hasilnya dapat menentukan masa depan industri streaming, yang kini semakin kompetitif.

Sumber : Reuters

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights