New Delhi, NusantaraTop.co – Saat musim tanam mendekat, petani di Negara Bagian Punjab, India kembali membakar lahan mereka untuk membersihkan sisa jerami. Sekitar 240 kilometer dari sana, ibu kota New Delhi pun kembali diselimuti kabut asap pekat yang membuat 30 juta penduduknya kesulitan bernapas.
Kebakaran lahan di negara bagian tetangga Punjab dan Haryana menjadi penyumbang utama kabut asap yang menutupi langit Delhi setiap tahun. Meski pemerintah telah lama memberlakukan larangan dan pengetatan hukum, banyak petani tetap melakukan pembakaran karena alasan ekonomi.

Didar Singh, salah satu petani Punjab, mengaku tak punya pilihan lain.
“Tak ada petani yang ingin membakar jerami dan mencemari bumi. Tapi kami terpaksa melakukannya karena tidak mampu membeli traktor khusus untuk membersihkan lahan,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Singh menambahkan, para petani sadar bahwa asap pembakaran dapat membahayakan kesehatan mereka, namun mereka hanya memiliki waktu sempit untuk menanam gandum kembali setelah panen padi.
Pejabat Distrik Mansa, Navjot Kaur, mengatakan sebagian petani memang terkendala alat, tetapi ada juga yang sengaja menolak mengikuti prosedur ramah lingkungan.
“Kami sudah memberikan banyak bantuan dan perusahaan penyedia alat, namun masih ada petani yang menolak mengikuti aturan. Kami terus berupaya menegakkan kebijakan yang berlaku,” ujarnya.
Pemerintah India kini memperketat pengawasan polusi di Delhi dan wilayah sekitarnya. Dalam beberapa hari terakhir, kualitas udara di ibu kota sempat membaik ke tingkat “sedang”, meski tetap tergolong berbahaya bagi kesehatan.
Musim dingin di Delhi memang kerap disertai kabut asap tebal. Udara yang dingin dan kering memerangkap emisi dari kendaraan, proyek konstruksi, dan pembakaran lahan, menjadikan kota ini sebagai salah satu yang memiliki tingkat polusi udara tertinggi di dunia. (red)












