London, NusantaraTop.co – Ratusan orang menggelar aksi unjuk rasa di London pada Sabtu (17/1/2026) menentang rencana pembangunan “mega” kedutaan besar China di Inggris. Aksi tersebut digelar beberapa hari menjelang keputusan pemerintah Inggris terkait kelanjutan rencana kontroversial tersebut.
Para demonstran, sebagian besar menutupi wajah mereka dengan masker dan syal, meneriakkan yel-yel penolakan terhadap kedutaan China. Mereka juga mengibarkan bendera bertuliskan “Free Hong Kong. Revolution now” serta membawa poster bernada kritik terhadap Beijing dan pemerintah Inggris.
Sejumlah poster menyebutkan slogan seperti “MI5 warned. Labour kneeled”, merujuk pada peringatan badan intelijen domestik Inggris serta pemerintahan Partai Buruh di bawah Perdana Menteri Keir Starmer. Poster lain bertuliskan “CCP is watching you. Stop the mega embassy”.
China diketahui telah beberapa tahun berupaya memindahkan kedutaannya dari kawasan elite Marylebone di London ke lokasi bersejarah bekas Royal Mint, yang berada tak jauh dari Menara London. Rencana tersebut menuai penolakan keras dari warga sekitar, kelompok hak asasi manusia, serta para pengkritik Partai Komunis China.
Kepala organisasi pemantau HAM Hong Kong Watch, Benedict Rogers, menilai jika rencana itu disetujui, lokasi tersebut sangat berpotensi digunakan untuk aktivitas spionase. Ia menyoroti keberadaan jaringan kabel komunikasi bawah tanah yang sensitif di sekitar lokasi pembangunan.
“Jika disetujui, sangat mungkin lokasi ini akan digunakan untuk kegiatan intelijen. China juga telah menjalankan kampanye represi lintas negara terhadap komunitas diaspora dan para pengkritiknya, dan itu berpotensi semakin meningkat,” ujarnya.

Salah satu demonstran bernama Brandon, warga asal Hong Kong yang kini tinggal di Manchester, menyatakan kekhawatiran besar atas rencana tersebut. Menurutnya, banyak warga Hong Kong pindah ke Inggris untuk menghindari pemerintahan otoriter di China, namun kini menghadapi kemungkinan berdirinya kedutaan yang disebutnya sebagai basis operasi Beijing.
“Saya rasa ini tidak baik untuk siapa pun kecuali pemerintah China,” kata pria berusia 23 tahun itu.
Demonstran lainnya, seorang perempuan berusia 60 tahun yang juga berasal dari Hong Kong, mendesak Perdana Menteri Keir Starmer untuk menghentikan rencana tersebut karena dinilai berisiko tinggi terhadap keamanan nasional Inggris dan Eropa.
Aksi tersebut turut mendapat dukungan dari sejumlah tokoh politik, termasuk pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch. Sebelumnya, sejumlah anggota parlemen Inggris juga menyuarakan kekhawatiran keamanan setelah sebuah laporan media menyebutkan kompleks kedutaan itu akan memiliki lebih dari 200 ruang rahasia, termasuk satu ruang tersembunyi.
Laporan media Inggris menyebutkan bahwa bangunan baru tersebut dirancang memiliki ratusan ruangan tersembunyi di bawah tanah yang berdekatan dengan jaringan komunikasi penting, memicu kekhawatiran serius terkait keamanan nasional.(red)
Sumber : Reuters
Editor : Pahotan M Hutagalung












