Ternate, NusantaraTop.co – Aparat TNI membubarkan kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul Pesta Babi yang digelar di Kota Ternate, Maluku Utara, Jumat (8/5/2026). Pembubaran dilakukan karena film tersebut dinilai menuai banyak penolakan dan dianggap bersifat provokatif.
Dandim 1501/Ternate Letkol Inf Jani Setiadi mengatakan pihaknya melakukan pemantauan terhadap kegiatan tersebut setelah melihat berbagai penolakan di media sosial terkait pemutaran film dokumenter itu.
“Kami memonitor kegiatan ini. Kemudian keberadaan kegiatan ini, kami melihat di media sosial, banyaknya penolakan akan kegiatan film ini, karena banyak yang menilai ini bersifat provokatif dari judulnya,” ujar Jani Setiadi seperti dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (8/5).
Ia menegaskan penilaian tersebut bukan pendapat pribadi, melainkan berdasarkan respons masyarakat di media sosial yang menganggap judul film tersebut sensitif dan berpotensi memicu polemik.
Menurutnya, isu SARA di Maluku Utara sangat sensitif dan mudah dipolitisasi, sehingga pihaknya meminta kegiatan nobar tidak dilanjutkan. Meski demikian, aparat masih memperbolehkan agenda diskusi tetap berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate, Yunita Kaunar, mengecam tindakan aparat yang membubarkan pemutaran film tersebut. Ia menilai tindakan itu sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berekspresi dan hak masyarakat memperoleh informasi.
“Ini bukan sekadar pembubaran nobar film, tapi bentuk nyata intimidasi terhadap ruang demokrasi dan kebebasan berekspresi warga. Aparat tidak seharusnya menjadi pihak yang menentukan karya apa yang boleh atau tidak boleh ditonton masyarakat,” tegas Yunita.
Yunita juga menyoroti kehadiran aparat sejak awal kegiatan, termasuk tindakan mendokumentasikan panitia dan peserta, yang dinilai menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis bagi peserta kegiatan.
Menurutnya, alasan potensi konflik tidak dapat dijadikan dasar pembubaran karena kegiatan berlangsung damai dan tidak mengandung unsur provokasi.
“Kalau setiap karya kritis dianggap ancaman lalu dibungkam, maka demokrasi sedang berada dalam situasi berbahaya. Negara tidak boleh takut terhadap diskusi dan film dokumenter,” ujarnya.
Kegiatan nobar dan diskusi tersebut diketahui digelar oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara bersama AJI Kota Ternate di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah.
Film dokumenter Pesta Babi merupakan hasil kolaborasi Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru. Film itu mengangkat isu deforestasi serta proyek strategis nasional di Papua, termasuk menyoroti keterlibatan militer dalam agenda pembangunan negara.
(red/tim)
Sumber : CNN Indonesia
Editor : Pahotan M Hutagalung












