Sulawesi Selatan, NusantaraTop.co – Kronologi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026), mulai terkuak. Dugaan penyebab kecelakaan tersebut terungkap setelah tim pencari menemukan benda yang diduga kuat merupakan bagian dari black box pesawat di lokasi pencarian.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan, pilot pesawat sempat menerima peringatan sebelum akhirnya pesawat hilang kontak. Hal itu disampaikan langsung Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, saat rapat dengan Komisi V DPR RI.
Pesawat ATR 42-500 tersebut diketahui terbang dari Yogyakarta dengan tujuan Makassar. Selain pilot dan awak kabin, pesawat juga membawa rombongan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Total terdapat 10 orang di dalam pesawat, dan hingga 22 Januari 2026, delapan korban telah berhasil ditemukan.
Soerjanto menjelaskan, pesawat diduga keluar jalur penerbangan saat hendak melakukan pendaratan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Dalam paparan KNKT, rute pesawat saat kejadian menyimpang dari Standard Terminal Arrival Route (STAR) untuk runway 21.
“Rute yang seharusnya dilalui dimulai dari titik Araja, kemudian menuju Openg, dan terakhir ke Kabip. Namun pesawat tidak terbang menuju titik Araja seperti yang diarahkan,” ujar Soerjanto, dikutip dari Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Meski telah diminta memotong jalur langsung ke titik Openg, pesawat ATR 42-500 tersebut tetap melaju dan melewati titik tersebut. KNKT mengaku belum dapat memastikan penyebab pesawat terus keluar jalur.
Selanjutnya, pesawat diarahkan menuju titik Kabip agar dapat melakukan intercept localizer untuk sistem pendaratan otomatis (automatic landing system). Namun, pesawat tetap terbang menyimpang hingga memasuki kawasan pegunungan Bulusaraung.
“Terakhir, pesawat berbelok ke kanan. ATC sempat menanyakan apakah pesawat berbelok dengan heading 245,” jelas Soerjanto. Heading tersebut diharapkan dapat memotong jalur Instrument Landing System (ILS) agar sistem pendaratan otomatis dapat berfungsi.
Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa oleh KKP akhirnya mengalami kecelakaan. Setelah itu, komunikasi antara menara pengawas lalu lintas udara (ATC) dan pesawat terputus atau lost contact.
Hingga kini, KNKT masih terus melakukan investigasi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut.
(red)
Sumber: Kompas.com












