Amerika Serikat, NusantaraTop.co, Kamis (29/1/2026) – Pegunungan di wilayah barat Amerika Serikat memasuki awal 2026 dengan kondisi tutupan salju yang sangat tipis. Meski sebagian besar wilayah mengalami curah hujan normal hingga di atas rata-rata pada musim gugur dan awal musim dingin, suhu yang lebih hangat menyebabkan sebagian besar presipitasi turun dalam bentuk hujan, bukan salju. Kondisi ini memicu fenomena yang dikenal sebagai snow drought atau kekeringan salju.
Citra satelit MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang diambil oleh satelit Terra milik NASA pada 15 Januari 2026 menunjukkan tutupan salju di wilayah barat AS hanya mencapai 142.700 mil persegi (sekitar 369.700 kilometer persegi). Angka tersebut merupakan yang terendah untuk tanggal tersebut sejak pencatatan MODIS dimulai pada 2001, serta kurang dari sepertiga nilai median historis. Tutupan salju sempat meningkat sedikit hingga 26 Januari, namun masih berada jauh di bawah normal.
Selain luas tutupan salju, indikator penting lainnya adalah snow water equivalent (SWE), yakni jumlah air yang tersimpan di dalam lapisan salju. Pada awal Januari 2026, Sistem Informasi Kekeringan Terpadu Nasional AS (National Integrated Drought Information System) melaporkan bahwa kondisi snow drought—yang didefinisikan sebagai SWE di bawah persentil ke-20—paling parah terjadi di Washington, Oregon, Colorado, Utah, Arizona, dan New Mexico.
Data dari Layanan Konservasi Sumber Daya Alam USDA (USDA Natural Resources Conservation Service) menunjukkan bahwa setidaknya satu stasiun pemantau di setiap daerah aliran sungai utama di wilayah barat mencatat tingkat SWE terendah dalam kurun waktu minimal 20 tahun pada 26 Januari 2026.

Secara umum, beberapa bulan sebelumnya di wilayah barat AS tergolong basah dan hangat. Pada tahun air yang dimulai 1 Oktober 2025, banyak wilayah menerima curah hujan normal hingga di atas rata-rata. Namun, suhu yang mencetak rekor panas di area yang sangat luas menyebabkan presipitasi lebih banyak turun sebagai hujan. Salah satu contohnya adalah peristiwa atmospheric river hangat yang melanda Pacific Northwest pada Desember 2025.
Meski demikian, terdapat pengecualian di wilayah Southern Sierra dan Northern Rockies. Di kawasan pegunungan dengan elevasi tinggi, lebih banyak presipitasi yang turun sebagai salju dibandingkan hujan. Akibatnya, beberapa lokasi dataran tinggi mencatat SWE di atas rata-rata, sementara wilayah yang lebih rendah tetap mengalami defisit salju.
“Ini adalah contoh klasik dampak perubahan iklim, di mana kenaikan suhu memengaruhi distribusi salju berdasarkan ketinggian,” ujar Daniel Swain, ilmuwan iklim dari California Institute for Water Resources.
Presipitasi yang turun sebagai hujan cenderung langsung mengalir dan sulit mengisi kembali waduk serta air tanah. Sebaliknya, lapisan salju musim dingin yang mencair secara bertahap pada musim semi dapat menyediakan pasokan air yang lebih stabil dan berkelanjutan. Kondisi kesehatan salju pegunungan sangat berpengaruh terhadap ekosistem, dinamika kebakaran hutan, serta ketersediaan air untuk pertanian dan kebutuhan lainnya pada musim kering.
Meski musim dingin masih menyisakan waktu, dan Februari hingga Maret berpotensi membawa hujan salju tambahan, para ilmuwan memperingatkan bahwa salju yang turun kemungkinan tidak cukup untuk menutupi defisit yang telah terjadi. Di wilayah yang sudah kering seperti Pacific Northwest dan Daerah Aliran Sungai Colorado, snow drought berisiko berkembang menjadi kekeringan konvensional atau memperparah kondisi yang ada.
(Sumber: NASA Earth Observatory)
(Editor : Pahotan M Hutagalung)












