Kyiv, NusantaraTop.co – Jumlah tentara yang tewas, terluka, atau hilang dalam perang Rusia–Ukraina diperkirakan dapat mencapai dua juta orang pada musim semi mendatang. Rusia disebut menanggung korban jiwa terbesar yang pernah dialami kekuatan besar mana pun sejak Perang Dunia II.
Peringatan tersebut disampaikan dalam laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Selasa, menjelang peringatan empat tahun invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 24 Februari mendatang.
Laporan itu menyebutkan, sejak Februari 2022 hingga Desember 2025, Rusia diperkirakan mengalami 1,2 juta korban, termasuk hingga 325.000 tentara tewas. Angka tersebut menjadikan Rusia sebagai negara dengan kerugian militer terbesar dalam konflik modern pasca-Perang Dunia II.
“Terlepas dari klaim kemajuan di medan perang, data menunjukkan Rusia membayar harga yang luar biasa mahal untuk keuntungan yang sangat terbatas dan tengah mengalami kemunduran sebagai kekuatan besar,” tulis laporan CSIS.
Sementara itu, Ukraina yang memiliki jumlah pasukan dan populasi lebih kecil diperkirakan mengalami 500.000 hingga 600.000 korban militer, termasuk hingga 140.000 tentara tewas.

CSIS memperkirakan, jika laju pertempuran saat ini berlanjut, total korban gabungan Rusia dan Ukraina dapat mencapai 1,8 juta orang dan berpotensi menyentuh dua juta korban pada musim semi.
Baik Moskow maupun Kyiv selama ini tidak secara rutin merilis data resmi korban militer. Masing-masing pihak juga saling menuding telah melebih-lebihkan angka kerugian lawan.
Menanggapi laporan tersebut, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa riset CSIS tidak dapat dianggap sebagai informasi yang dapat diandalkan. Ia menegaskan bahwa hanya Kementerian Pertahanan Rusia yang berwenang menyampaikan data resmi korban perang.
Namun, Kementerian Pertahanan Rusia terakhir kali merilis angka korban jiwa pada September 2022, yang menyebutkan kurang dari 6.000 tentara Rusia tewas. Sejak itu, tidak ada pembaruan resmi.
Pemerintah Ukraina belum memberikan komentar langsung atas laporan CSIS. Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam wawancara dengan NBC pada Februari 2025 menyebut lebih dari 46.000 tentara Ukraina tewas sejak perang dimulai.

Perang Atrisi dan Laju Serangan Lambat
Laporan CSIS juga menilai bahwa kemajuan pasukan Rusia berlangsung sangat lambat, meskipun mereka merebut kembali inisiatif di medan tempur sejak 2024. Rusia disebut hanya mampu maju rata-rata 15 hingga 70 meter per hari dalam operasi ofensif utamanya.
“Kecepatan ini lebih lambat dibanding hampir seluruh kampanye ofensif besar dalam perang apa pun selama satu abad terakhir,” ungkap CSIS.
Para analis menilai perang telah berubah menjadi perang atrisi, dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menunjukkan urgensi untuk mencari penyelesaian politik meski menghadapi kesulitan besar di garis depan sepanjang sekitar 1.000 kilometer.
Serangan Terbaru di Ukraina
Di tengah perang yang terus berlanjut, serangan Rusia kembali menewaskan warga sipil. Dua orang dilaporkan tewas dalam serangan di wilayah Bilohorodka, pinggiran Kyiv, Rabu waktu setempat. Sedikitnya sembilan orang lainnya terluka akibat serangan di Odesa, Kryvyi Rih, dan wilayah Zaporizhzhia.
Angkatan Udara Ukraina menyebut Rusia melancarkan serangan menggunakan satu rudal balistik dan 146 drone, dengan 103 di antaranya berhasil ditembak jatuh atau dilumpuhkan melalui perang elektronik.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya menghancurkan 75 drone Ukraina, sebagian besar di wilayah Krasnodar dan Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia.(red)
Sumber : AP News
Editor : Pahotan M Hutagalung












