Ekonomi & BisnisMancanegaraPolitik

Akuisisi Sunway atas IJM Senilai Rp40,18 Triliun Guncang Korporasi Malaysia, Picu Isu Ras dan Intrik Politik

×

Akuisisi Sunway atas IJM Senilai Rp40,18 Triliun Guncang Korporasi Malaysia, Picu Isu Ras dan Intrik Politik

Sebarkan artikel ini
Sunway adalah konglomerasi yang sangat terdiversifikasi dengan kepentingan regional di bidang properti, konstruksi, pendidikan, layanan kesehatan, perhotelan, ritel, dan rekreasi. (Foto: Sunway)

KUALA LUMPUR, NusantaraTop.co – Langkah berani konglomerasi properti Malaysia, Sunway Group, mengajukan penawaran pengambilalihan terhadap raksasa konstruksi IJM Corp mengguncang lanskap korporasi Negeri Jiran. Manuver ini memicu perdebatan sensitif soal ras dalam ekonomi Malaysia yang sarat politisasi, sekaligus membuka peluang terjadinya perang penawaran untuk salah satu perusahaan paling sukses di negara tersebut.

Nilai transaksi yang dipertaruhkan mencapai RM11,1 miliar atau setara sekitar Rp40,18 triliun (kurs estimasi Rp3.620 per ringgit). Angka itu juga dikonversi sekitar US$2,81 miliar atau kurang lebih Rp43,55 triliun (kurs estimasi Rp15.500 per dolar AS). Jika terealisasi, ini akan menjadi manuver korporasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Malaysia serta menandai konsolidasi besar di sektor properti dan konstruksi.

Namun, rencana akuisisi tersebut menuai kritik dari kalangan politik dan bisnis. Mereka memperingatkan potensi preseden berbahaya: perusahaan yang mayoritas dikendalikan etnis Tionghoa mengakuisisi entitas yang selama ini dipandang sebagai representasi kepentingan ekonomi etnis Melayu.

Penawaran tidak diminta (unsolicited offer) dari Sunway Group langsung mendapat sorotan dari sayap pemuda United Malays National Organisation (UMNO), partai senior dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Anwar Ibrahim.

Ketua Pemuda UMNO, Akmal Salleh, menyatakan bahwa kepemilikan Bumiputera di perusahaan-perusahaan besar bisa tergerus. Istilah Bumiputera merujuk pada etnis Melayu dan kelompok pribumi lain yang selama ini menjadi fokus kebijakan afirmatif pemerintah Malaysia.

Sejak 1970-an, politik Malaysia memang tidak lepas dari isu ras, terutama setelah kebijakan pemerintah secara agresif mendorong peningkatan partisipasi ekonomi etnis Melayu dalam perekonomian yang lama didominasi komunitas Tionghoa. Dalam konteks tersebut, ancaman terhadap kepentingan Melayu berpotensi memicu ketegangan publik.

Pendiri dan Ketua Sunway Jeffrey Cheah Foto Sunway

Profil dan Kepentingan Strategis

Didirikan pada 1974 sebagai perusahaan tambang timah, Sunway kini menjelma menjadi konglomerasi besar dengan portofolio di sektor properti, konstruksi, pendidikan, kesehatan, perhotelan, ritel, hingga rekreasi. Perusahaan ini dikendalikan oleh pengusaha berpengaruh Jeffrey Cheah.

Sementara itu, IJM Corporation Berhad memiliki sekitar 45 persen saham yang dipegang lembaga investasi terkait pemerintah—yang secara luas dipandang mewakili kepentingan ekonomi mayoritas Melayu.

IJM dikenal kuat di sektor konstruksi dan pengembangan infrastruktur, termasuk jalan tol dan pelabuhan. Perusahaan ini juga memiliki konsesi jalan tol yang menguntungkan, aktivitas pertambangan batu, serta manufaktur produk beton.

Menurut divisi riset Hong Leong Investment Bank, IJM memiliki cadangan lahan lebih dari 3.300 acre di Malaysia dengan nilai pengembangan bruto (gross development value) mencapai RM41,6 miliar atau sekitar Rp150,59 triliun.

Selain Sunway dan IJM, pemain besar lain di sektor konstruksi dan infrastruktur Malaysia adalah Gamuda dan YTL Corporation—dua perusahaan yang juga dikendalikan kelompok etnis Tionghoa.

Investigasi dan Intrik di Balik Layar

Di luar polemik ras, rencana akuisisi ini juga menjadi sorotan komunitas bisnis Malaysia yang dikenal erat dan saling terhubung, terutama karena dinamika politik dan bisnis yang kerap berkelindan.

Sepekan setelah penawaran Sunway pada 12 Januari, IJM menjadi sasaran penyelidikan oleh Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC) dan otoritas pajak nasional LHDN.

Tekanan meningkat pada 5 Februari ketika petugas MACC mendatangi kediaman Ketua IJM, Krishnan Tan, di Klang, sekitar 40 kilometer dari Kuala Lumpur, untuk keperluan pemeriksaan. Ia dilepaskan setelah lebih dari 12 jam diperiksa, dan penyelidikan masih berlangsung.

Kepala Komisaris MACC, Azam Baki, menyatakan pihaknya bekerja sama dengan Serious Fraud Office (SFO) Inggris terkait investigasi atas transaksi keuangan dan investasi luar negeri IJM senilai RM2,5 miliar atau sekitar Rp9,05 triliun.

Seorang pejabat senior Kementerian Keuangan Malaysia menegaskan bahwa penyelidikan tersebut tidak berkaitan dengan penawaran umum Sunway, melainkan menyangkut investasi IJM di Inggris pada 2024.

Dalam pernyataan resmi 8 Februari, Krishnan Tan menyatakan telah bekerja sama penuh dengan otoritas dan menolak berkomentar lebih lanjut selama proses penyelidikan berlangsung.

Dengan dinamika politik, isu ras, serta penyelidikan hukum yang membayangi, akuisisi Sunway atas IJM kini menjadi ujian besar bagi stabilitas korporasi dan sensitivitas sosial-ekonomi Malaysia.(red)

Sumber : CNA

Editor : Pahotan M Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights