Dubai, Uni Emirat Arab, NusantaraTop.co (21/7/2026) – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker di Selat Hormuz pada Selasa dini hari waktu setempat. Serangan tersebut memaksa seluruh awak kapal meninggalkan kapal mereka, sementara Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah target militer Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan itu membuat jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia, semakin lumpuh. Sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia pada masa damai biasanya melintasi perairan tersebut.
Militer Amerika Serikat menyatakan serangan udara terbaru merupakan malam ke-10 berturut-turut terhadap sasaran militer Iran. Meski demikian, operasi tersebut belum mampu memaksa Teheran mengurangi penguasaannya atas Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut serangan menyasar pusat komando militer, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara Iran.
“Pasukan Amerika tetap siap mempertanggungjawabkan setiap agresi Iran terhadap kapal-kapal sipil yang melintas secara bebas di Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM.
Garda Revolusi Iran Klaim Serangan Kapal
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker diserang di perairan Selat Hormuz, lepas pantai Oman. Akibat serangan tersebut, seluruh awak kapal terpaksa dievakuasi.
Korps Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, termasuk dua serangan lain terhadap kapal-kapal yang melintas sehari sebelumnya.
Jalur pelayaran melalui perairan Oman sebelumnya direkomendasikan oleh militer Amerika Serikat sebagai rute yang lebih aman untuk menghindari wilayah yang dikuasai Iran.
Negara-Negara Timur Tengah Ikut Terdampak
Ketegangan juga meluas ke sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Kuwait mengaku sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan rudal yang masuk. Sementara itu, militer Yordania menyatakan telah menembak jatuh tiga rudal Iran tanpa menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Bahrain turut mengecam serangan drone Iran yang disebut menargetkan sistem lalu lintas udara negaranya dan membahayakan keselamatan penerbangan sipil.
Hampir 100 Tentara AS Terluka
Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengungkapkan hampir 100 personel militer Amerika Serikat mengalami luka sejak operasi militer kembali dimulai pada 7 Juli lalu.
Sebanyak 96 persen di antaranya telah kembali bertugas karena sebagian besar hanya mengalami gegar otak ringan.
Namun demikian, Pentagon belum memperbarui data resmi mengenai jumlah korban dalam sistem pelaporan militernya.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
“Setiap kali Iran membunuh tentara Amerika, mereka akan membayar berkali-kali lipat,” tulis Trump melalui media sosial.
Harga Minyak Dunia Terus Naik
Konflik yang terus bereskalasi mendorong harga minyak dunia kembali meningkat. Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$88 per barel, sementara harga rata-rata bensin di Amerika Serikat mencapai sekitar US$4 per galon.
Kenaikan harga energi tersebut diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap perekonomian global apabila konflik terus berlanjut.
Houthi Ancam Tutup Jalur Laut Lain
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Kelompok tersebut mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Pemerintah Arab Saudi menegaskan akan menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka dan memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal sipil merupakan pelanggaran hukum internasional.
Upaya Diplomasi Masih Berlangsung
Di tengah meningkatnya konflik, Pakistan berupaya menjadi mediator untuk menghidupkan kembali kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah runtuh.
Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni tiba di Islamabad untuk menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan sejumlah pejabat lainnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan Washington masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
“Jika pintu diplomasi terbuka, itu akan menjadi perkembangan yang sangat positif. Namun, saat ini kondisi tersebut belum terjadi,” ujar Rubio.
Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 50 orang tewas dan 517 lainnya terluka akibat serangan udara terbaru Amerika Serikat. Sejak konflik pecah pada 28 Februari, sebanyak 17 personel militer Amerika Serikat dilaporkan meninggal dunia.
Sumber: Associated Press (AP).












