NusantaraTop.co – Seorang bocah asal Meksiko, David Camacho, menjadi sorotan dunia karena kecerdasannya yang luar biasa. Di usia 10 tahun, ia memiliki skor IQ mencapai 162, jauh di atas standar kecerdasan tinggi yang ditetapkan World Health Organization yakni 130.
Saat ini, David menempuh pendidikan di sekolah internasional dan dipersiapkan untuk masuk ke jenjang universitas. Kemampuannya juga terbilang istimewa, ia fasih berbahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman, serta tengah mempelajari bahasa Rusia, Portugis, dan Italia.
David mengaku bangga dengan kecerdasannya, namun ia ingin menggunakan kelebihannya untuk tujuan yang lebih besar.
“Saya ingin menggunakannya untuk membantu anak-anak dan kesejahteraan umat manusia, meninggalkan jejak,” ujarnya seperti dikutip dari BBC Mundo, Selasa (5/5/2026).
Meski memiliki IQ tinggi, David tidak terlalu nyaman disebut sebagai anak jenius, apalagi jika dibandingkan dengan tokoh besar seperti Albert Einstein dan Stephen Hawking yang diperkirakan memiliki IQ sekitar 160.
“Saya baru 10 tahun dan baru memulai. Mungkin saya akan menjadi jenius saat berusia 70 tahun, ketika saya sudah melakukan hal-hal hebat,” katanya.
Terinspirasi Leonardo da Vinci
Sosok yang paling menginspirasinya adalah Leonardo da Vinci. Bahkan, David mengadopsi nama “David da Vinci” di media sosialnya.
Ia mengagumi Leonardo sebagai seorang polimatik yang menguasai berbagai bidang seperti sains, seni, teknologi, hingga humaniora.
“Saya ingin menjadi seperti dia, melakukan hal-hal besar,” ungkapnya.
Namun, David menilai banyak orang salah memahami arti “jenius”. Menurutnya, kecerdasan tinggi tetap membutuhkan proses belajar.
“Kalau saya belum belajar, ya saya tidak akan tahu,” ujarnya.
Terungkap Sejak Kecil
Ibunda David, Claudia Flores, mengungkapkan bakat anaknya mulai terlihat sejak kecil. Salah satunya saat David mampu menghafal sekitar 40 lagu anak-anak dalam satu perjalanan.
Saat mulai sekolah, David hanya bertahan 15 hari sebelum meminta dipindahkan ke tingkat lebih tinggi karena merasa kurang tertantang.
Ia juga menunjukkan kemampuan berhitung hingga jutaan angka saat belajar dari rumah pada masa pandemi COVID-19.
Meski demikian, Claudia mengakui membesarkan anak dengan kecerdasan luar biasa memiliki tantangan tersendiri.
“Dia anak yang tenang dan baik, tapi juga sangat aktif. Seperti punya ‘komputer’ di kepalanya,” ujarnya.

Pernah Jadi Korban Bullying
Di balik kelebihannya, David juga pernah mengalami perundungan dari teman sebaya.
“Anak-anak lain tidak mengerti, jadi mereka membully saya,” katanya.
Namun pengalaman itu justru mendorongnya menciptakan inovasi. Ia mengembangkan aplikasi bernama Macayos, platform berbasis kecerdasan buatan untuk membantu anak-anak memahami dan mengelola emosi.
David pun mengajak masyarakat untuk lebih empati terhadap anak-anak berbakat.
“Kami bukan makhluk luar angkasa. Kami tetap anak-anak,” tegasnya.
Mimpi Besar ke Luar Angkasa
Di usianya yang masih sangat muda, David sudah pernah memberikan konferensi di universitas dan organisasi internasional, serta tengah menyiapkan buku.
Ia juga berkesempatan mengunjungi pusat NASA di Houston dan mengikuti pelatihan luar angkasa, termasuk merasakan simulasi gravitasi nol.
Ke depan, David memiliki mimpi besar untuk menciptakan inovasi di luar angkasa. Ia bahkan ingin menjadi seperti Elon Musk.
“Saya ingin membuat SpaceX berikutnya dan melakukan operasi pertama di luar angkasa. Saya masih punya seluruh hidup di depan saya,” pungkasnya.(red)
Editor : Pahotan M Hutagalung










