Medan, NusantaraTop.co – Akumulasi Kemarahan Buruh dan Rakyat (AKBAR) Sumatera Utara menegaskan sikap tidak bergabung dalam perayaan Hari Buruh versi Pemprov Sumut di GOR Astaka. Aliansi ini memilih turun ke jalan dengan menggelar aksi di Lapangan Merdeka, Jumat (1/5/2026).
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk penolakan terhadap perayaan yang dinilai hanya bersifat seremonial dan tidak menyentuh persoalan nyata buruh di lapangan.
Pemprov Gelar Perayaan di GOR Astaka
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menggelar peringatan May Day di GOR Astaka yang diikuti sekitar 2.000 peserta dari 77 serikat pekerja.
Berbeda dengan itu, AKBAR Sumut memilih aksi jalanan yang melibatkan buruh, mahasiswa, serta elemen masyarakat dari berbagai daerah seperti Labuhan Batu, Asahan, Batu Bara, Deli Serdang, Serdang Bedagai, hingga Langkat.
Baca Juga : Sejarah Panjang Hari Buruh 1 Mei: Dari Chicago hingga Indonesia
Baca Juga : May Day 2026 di Langkat Berlangsung Damai, Buruh dan Mahasiswa Sampaikan 4 Tuntutan ke Pemkab
“Kami Bukan Merayakan, Kami Menuntut”
Juru bicara aksi, Didi Herdianto dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) Sumut menegaskan bahwa aksi yang dilakukan bukan untuk merayakan, melainkan menuntut hak-hak buruh.
“AKBAR turun bukan untuk merayakan. Kami menuntut pemenuhan hak pekerja yang masih diabaikan negara dan pengusaha,” tegasnya di sela aksi.
Ia menyebut hingga 2026 masih banyak buruh di Sumatera Utara yang mengalami pelanggaran hak normatif, intimidasi, hingga menerima upah yang tidak layak.
Soroti Dugaan Pelanggaran Perusahaan
Dalam orasinya, Didi juga mengungkap dua kasus yang dinilai mencerminkan persoalan ketenagakerjaan di daerah.
Pertama, dugaan pelanggaran di CV BSS Asahan terkait upah lembur yang belum dipenuhi meski telah ada nota anjuran dari Dinas Pengawasan Ketenagakerjaan.
Kedua, dugaan pelanggaran di PT Emena Wilmar Group Kuala Tanjung yang disebut belum menjalankan kewajiban terhadap pekerja.
“Ini perusahaan besar, tapi lalai soal hak dasar pekerja,” ujarnya.
Kritik Perayaan Seremonial
AKBAR Sumut menilai perayaan Hari Buruh oleh pemerintah tidak boleh menutupi fakta masih adanya pelanggaran terhadap buruh di sektor industri dan perkebunan.
“Selama upah murah, outsourcing, dan intimidasi masih ada, tidak ada yang pantas dirayakan. Yang ada hanya perlawanan,” tegas Didi.
Aksi yang berlangsung di Lapangan Merdeka berjalan damai dengan pengawalan aparat keamanan. Massa membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIB setelah membacakan pernyataan sikap.
Laporan: Jonathan Panggabean
Editor: Pahotan M Hutagalung












