Medan, NusantaraTop.co — Bentrokan antar organisasi masyarakat (ormas) kembali mengguncang Kota Medan. Insiden terbaru terjadi di Kelurahan Tegal Sari Mandala II, Kecamatan Medan Area, pada Minggu malam (5/10/2025), melibatkan dua kelompok besar, yakni Pemuda Pancasila (PP) dan Ikatan Pemuda Karya (IPK).
Peristiwa ini menyebabkan dua warga mengalami luka-luka dan sejumlah fasilitas warga rusak, memicu kekhawatiran akan stabilitas keamanan di wilayah tersebut.
Menurut informasi dari pihak kepolisian, bentrokan bermula saat rombongan ormas Pemuda Pancasila melintas di kawasan Tegal Sari Mandala II usai menghadiri acara pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) PP.
Dalam perjalanan, diduga terjadi pelemparan terhadap rombongan tersebut yang kemudian memicu kemarahan dan berujung bentrokan dengan kelompok IPK yang berbasis di sekitar lokasi kejadian.
Kapolsek Medan Area Kompol Himawan Chandra menjelaskan bahwa bentrokan berlangsung cukup intens hingga menimbulkan korban luka dari warga sekitar.
“Untuk masyarakat, ada dua orang luka-luka kena lemparan batu. Sempat dibawa ke rumah sakit, namun sekarang sudah tidak. Berobat jalan jadinya,” ujar Kompol Himawan Chandra, Senin (6/10/2025).
Selain korban luka, sejumlah lapak jualan warga mengalami kerusakan. Meskipun belum ada data pasti mengenai jumlah lapak yang terdampak, kerugian tersebut menambah beban bagi warga yang tengah berjuang memulihkan kondisi ekonomi pasca pandemi.
Aparat gabungan dari Polsek Medan Area, TNI, dan pihak kelurahan bergerak cepat menenangkan situasi. Sekitar pukul 20.00 WIB, lokasi bentrokan dinyatakan sudah steril dan kondusif, dengan aparat tetap berjaga untuk mengantisipasi potensi bentrok susulan.
“Jam 8 malam itu sudah steril, sudah kondusif,” tegas Kompol Himawan.
Warga mengapresiasi langkah cepat aparat, namun tetap merasa waspada terhadap kemungkinan bentrokan lanjutan jika akar permasalahan tidak segera diselesaikan.
Bentrokan antar ormas seperti ini bukan hal baru di Medan. Rivalitas lama, provokasi kecil, serta minimnya komunikasi antarkelompok sering menjadi pemicu.
Peristiwa di Tegal Sari Mandala II menjadi pengingat pentingnya pendekatan dialog dan mediasi dalam menyelesaikan konflik sosial di masyarakat.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat keamanan dapat memperkuat sistem deteksi dini potensi konflik serta melakukan pembinaan terhadap ormas agar lebih berfokus pada kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat, bukan pada adu kekuatan massa.
“Kami berharap ini yang terakhir. Kami ingin Medan aman dan tenteram,” ujar salah satu warga setempat.
Stabilitas dan keamanan, lanjut warga, merupakan fondasi penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Kota Medan.(red)












