Pandan, Tapanuli Tengah – NusantaraTop.co – Aksi penjarahan terjadi di sejumlah minimarket di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), usai bencana banjir dan longsor yang menimpa wilayah tersebut sejak sepekan lalu. Putusnya akses perhubungan, terputusnya komunikasi, serta padamnya listrik PLN diduga memicu kepanikan sebagian warga hingga berujung pada tindakan kriminal.
Salah satu minimarket yang menjadi sasaran adalah Bina Swalayan Pandan. Selain itu, gerai modern lain seperti Indomaret, Alfamidi, dan Alfamart juga dilaporkan mengalami hal serupa.
Peristiwa penjarahan Bina Swalayan menjadi viral setelah pemiliknya, Jannes Maharaja Simbolon, mengunggah kronologi lengkap melalui akun Facebook-nya. Unggahan tersebut memantik perhatian publik dengan 3,9 ribu komentar dan 2,8 ribu kali dibagikan.
Kronologi Penjarahan: Pelaku Masuk Rumah, Rampas Barang, dan Coba Mendobrak Kamar
Dalam keterangannya, Jannes memaparkan kronologi peristiwa yang terjadi pada 29 November 2025 dini hari:
00.30 WIB – Massa Mulai Berkumpul
Puluhan orang berkumpul di depan Bina Swalayan. Jannes yang tinggal di lantai dua turun memberi imbauan agar warga bersabar menunggu bantuan pangan dari pemerintah. Namun peringatan itu diabaikan.
00.45 WIB – Pintu Dirobohkan
Sekitar 15 menit kemudian, massa berhasil menjebol pintu swalayan. Jannes berlari ke lantai dua dan bersembunyi di kamar bersama istri, dua anaknya (usia 17 dan 8 tahun), serta satu pekerja.
Pelaku Naik ke Lantai Dua dan Masuk Rumah
Para penjarah memasuki area rumah dan mengambil berbagai barang berharga, termasuk:
-
1 unit laptop
-
2 tablet
-
HP
-
jam tangan
-
sepatu dan sandal
-
serta barang-barang lain.
02.30 WIB – Pintu Kamar Dicoba Didobrak
Para pelaku mencoba memaksa masuk ke kamar tempat keluarga itu bersembunyi.
“Saya menahan pintu bersama istri sambil berteriak agar mereka berhenti,” tulis Jannes.
Setelah 10 menit, para pelaku pergi karena tidak dapat mendobrak pintu.
03.30 WIB – Pelaku Meninggalkan Lokasi
Para pelaku meninggalkan swalayan yang telah kosong. Jannes menggambarkan kondisi di dalam toko seperti “kapal pecah” dengan lantai penuh air dan tumpahan minyak. Banyak sandal pelaku tertinggal, diduga akibat terpeleset saat berebut barang.
Anak 8 Tahun Alami Trauma, Celengan Rp 5 Juta Hilang
Jannes menyebut insiden tersebut bukan sekadar penjarahan, tetapi sudah masuk kategori perampokan karena melibatkan ancaman keselamatan jiwa.
“Anak saya yang umur 8 tahun mengalami trauma akibat teriakan dan dorongan di pintu kamar,” ujarnya.
Ia juga menyebut celengan anaknya berisi sekitar Rp 5 juta turut hilang, termasuk sepatu sekolah sang anak.
Pemilik Kecewa Tidak Ada Respons Polisi
Jannes menyesalkan tidak adanya respons dari aparat, padahal ia mengaku sudah melapor sehari sebelum kejadian dan meminta perlindungan.
“Saya sangat memohon kepada Bapak Kapolres. Saya juga korban, jangan penanganannya seperti dianggap remeh,” tulisnya, ditujukan kepada Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Wahyu Endrajaya.
Ia menilai tidak adanya pengamanan dapat memicu krisis pangan dan keamanan jika penjarahan terus terjadi pada semua pasar modern di Pandan.
Respons Publik: “Ini Bukan Lapar, Ini Merampok”
Unggahan Jannes menuai berbagai tanggapan dari warganet. Beberapa komentar menyoroti tindakan pelaku yang dianggap tidak wajar dan jauh dari alasan darurat pangan.
Komentar warganet:
Rina Mei Ganda Simanjuntak:
“Semoga pihak berwajib bisa serius menangani masalah ini. Turut bersimpati, terutama untuk anak-anak yang ketakutan.”
Sondang N Saragih:
“Ini bukan orang kelaparan cari makanan, ini rampok. Sudah kena bencana, masih melakukan kejahatan pula.”
John Simbolon:
“Kalau hanya am bil makanan karena lapar mungkin bisa dimaklumi, tapi ini sudah masuk rumah, kamar, ambil celengan. Ini perampokan dan anarkisme. Harus diusut.”
#KapolresTapteng #Kapoldasu #Kapolri #PrabowoSubianto (red)
Sumber : FB Jannes Maharaja
Editor : Pahotan M Hutagalung












