Ekonomi & BisnisHukumMancanegaraPolitikRagam

Gen Z Tantang Elite, Nepal di Ambang Kudeta

×

Gen Z Tantang Elite, Nepal di Ambang Kudeta

Sebarkan artikel ini
Personel Tentara Nepal menjaga warga yang melanggar jam malam untuk menghadiri hari terakhir festival tradisional tahunan di Kathmandu pada Kamis. (The New York Times)
Tampak lokasi bangunan dan kendaraan hangus dibakar oleh pelaku pembakaran saat aksi protes di Kathmandu.
(Gambar : The New York times)

Kathmandu, NusantaraTop.co – Ibukota Nepal – Kathmandu berubah menjadi kota sunyi dan mencekam setelah bentrokan antara aparat keamanan dengan demonstran menewaskan sedikitnya 37 orang pada Kamis (11/9/2025). Hotel Hilton masih terbakar, gedung-gedung pemerintahan hancur, dan jalanan hanya dilintasi segelintir kendaraan yang diperiksa ketat oleh tentara bersenjata.

Nepal kini praktis tanpa pemerintahan. Perdana Menteri mengundurkan diri, sementara keberadaan Presiden Ram Chandra Poudel tidak jelas. Di tengah kekosongan kepemimpinan, generasi muda yang dikenal sebagai Gen Z mengusulkan mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, sebagai pemimpin interim. Namun, belum jelas siapa yang memiliki legitimasi untuk mengangkatnya.

Baca Juga :  PM Nepal Tumbang di Tengah Amarah Rakyat: Gedung Pemerintah dan Rumah Elite Jadi Sasaran

Baca Juga :  Nepal Memanas: PM KP Oli Mundur, Mantan PM Deuba dan Istri Diserang Massa di Tengah Aksi Anti-Korupsi

Institusi Runtuh, Korban Terus Bertambah

Sejumlah institusi besar, mulai dari kompleks istana yang menjadi kantor pemerintahan hingga gedung Mahkamah Agung dan kementerian, luluh lantak. Arsip, uang, dan dokumen resmi terbakar. Seorang mantan perdana menteri dan istrinya yang menjabat sebagai menteri luar negeri diserang massa. Istri mantan perdana menteri lain mengalami luka bakar serius dan menjalani operasi.

Sejak Senin, sedikitnya 34 demonstran dan tiga polisi tewas, sementara lebih dari 1.600 orang luka-luka. Kerusuhan bermula dari protes mahasiswa terhadap larangan penggunaan media sosial yang kemudian berkembang menjadi perlawanan besar terhadap korupsi dan dominasi elit politik.

“Tidak ada yang membayangkan hal ini,” kata Kopral Ramesh Tamang, tentara yang sudah empat hari berjaga di lokasi kebakaran Hotel Hilton.

Rachana K.C. (kiri) menangis pilu dalam doa bersama untuk putranya, Rashik Khatiwoda, seorang mahasiswa berusia 22 tahun yang tewas tertembak saat aksi protes. (Foto : The New York Times)

Gen Z: Dari Perlawanan hingga Harapan Baru

Para demonstran muda menolak disebut pelaku pembakaran dan penjarahan. Mereka menegaskan tujuan awalnya adalah perubahan sistem politik, bukan menghancurkan kota.

“Kami ingin revolusi untuk membangun, tapi mereka membakar negeri kami,” ucap Swarnab Chowdhury (18), seorang mahasiswa, sambil membersihkan sisa-sisa puing di jalan.

Gen Z juga menekankan dukungan terhadap Sushila Karki yang dikenal sebagai figur bersih dan anti-korupsi.

Tentara Ambil Alih Kontrol

Meski menolak disebut melakukan kudeta, tentara kini menguasai banyak aspek pemerintahan. Ribuan pasukan tambahan dikerahkan ke Kathmandu, menambah ketegangan di tengah trauma rakyat yang masih mengingat perang sipil dan tragedi pembantaian keluarga kerajaan pada 2001.

Sementara itu, para pengacara senior dikabarkan telah bertemu Presiden Poudel untuk membahas masa depan politik. Namun, Presiden belum muncul di hadapan publik sejak pecahnya kerusuhan.

Festival Terbesar Terganggu

Tragedi ini bertepatan dengan festival tahunan penarikan kereta emas di Durbar Square, salah satu ritual terpenting di Kathmandu. Meski ribuan orang tetap datang, dewi hidup Kumari tidak hadir untuk pertama kalinya dalam sejarah karena alasan keamanan.

Ketidakhadiran Kumari menjadi simbol paling nyata dari terganggunya tatanan dan tradisi Nepal akibat krisis politik terbesar dalam dua dekade terakhir.(*)

Sumber : The New York Times

Editor : Redaksi

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights