Pematangsiantar, NusantaraTop.co – Tindakan intimidasi yang diduga dilakukan oknum yang mengaku sebagai aparat intelijen di Sekretariat DPC GMNI Pematangsiantar menuai kecaman keras dari kalangan aktivis mahasiswa. Kehadiran oknum tersebut untuk melakukan “wawancara” terkait isu “Pesta Babi” dinilai sebagai bentuk teror psikologis yang mencederai independensi organisasi mahasiswa.
Ketua DPC GMNI Pematangsiantar, Nicolas Gurning, menyampaikan kritik tajam terhadap metode pengawasan yang dianggap represif dan tidak profesional. Menurutnya, sekretariat organisasi merupakan ruang privat untuk diskursus intelektual dan konsolidasi gerakan, bukan tempat aparat melakukan intimidasi terselubung terhadap kader mahasiswa.
“Sekretariat GMNI adalah rumah bagi kaum marhaenis untuk berpikir dan berjuang, bukan ruang interogasi. Jika ada oknum aparat datang tanpa surat tugas resmi dan melakukan pendataan tendensius, maka ini adalah bentuk ancaman terhadap kebebasan berorganisasi,” tegas Nicolas dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/5/2026).
Ia juga menilai narasi “Pesta Babi” yang dijadikan alasan wawancara merupakan bentuk stigmatisasi terhadap kegiatan kebudayaan yang dijalankan pemuda. Situasi tersebut dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan diduga bagian dari upaya sistematis untuk memantau dan membatasi gerak kritis mahasiswa di Kota Pematangsiantar.
“Kami menduga ada upaya untuk menciptakan rasa takut di kalangan kader agar tidak lagi kritis terhadap isu-isu sosial. Intelijen seharusnya bekerja untuk keamanan negara, bukan mendatangi sekretariat mahasiswa untuk melakukan pendataan yang tidak relevan,” ujarnya.
DPC GMNI Pematangsiantar menegaskan bahwa jika tindakan semacam ini terus dibiarkan, maka demokrasi di Kota Pematangsiantar berada dalam ancaman serius. Organisasi tersebut meminta pihak kepolisian dan pimpinan aparat keamanan setempat memberikan peringatan tegas kepada anggotanya agar bekerja sesuai koridor hukum dan menghormati hak asasi manusia.
“Aparat harus diberi peringatan agar tidak menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk masuk ke ranah privat organisasi. Pemuda dan mahasiswa harus tetap menjadi kontrol sosial yang bebas dari bayang-bayang teror intelijen,” lanjutnya.
Sebagai organisasi yang mengusung ajaran Bung Karno, GMNI Pematangsiantar juga mengajak seluruh elemen aktivis untuk tetap solid dan tidak gentar menghadapi segala bentuk upaya pembungkaman.
“Mahasiswa harus tetap berani. Jangan sampai marwah gerakan kita runtuh hanya karena intimidasi-intimidasi kecil yang mencoba mengerdilkan nyali perjuangan,” pungkasnya.(red/tim)
Editor : Pahotan M Hutagalung












