NasionalRagam

Hari Ayah Nasional 12 November: Sejarah, Makna, dan Puisi Peringatan 2025

×

Hari Ayah Nasional 12 November: Sejarah, Makna, dan Puisi Peringatan 2025

Sebarkan artikel ini

NusantaraTop.co – Hari Ayah Nasional yang diperingati setiap 12 November menjadi momentum penting untuk mengapresiasi peran ayah sebagai figur sentral dalam keluarga. Meski tidak berstatus hari libur nasional, peringatan ini terus mendapat perhatian publik karena maknanya yang kuat sebagai bentuk penghargaan atas kasih sayang, dedikasi, dan kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Ayah Nasional pertama kali ditetapkan pada 2006 dan memiliki sejarah panjang yang berawal dari sebuah kegiatan masyarakat.

Sejarah Penetapan Hari Ayah Nasional

Hari Ayah Nasional digagas oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP), organisasi masyarakat sipil berbasis di Solo, Jawa Tengah. Mengutip laporan Kompas.com (12/11/2023), gagasan ini muncul setelah PPIP menyelenggarakan perayaan Hari Ibu pada 22 Desember 2004 melalui lomba menulis surat untuk ibu.

Dalam kegiatan tersebut, seorang peserta bertanya mengapa tidak ada peringatan serupa untuk sosok ayah. Pertanyaan itu kemudian mendorong PPIP menggagas Hari Ayah Nasional dan melakukan audiensi dengan DPRD Surakarta untuk memformalkan momentum tersebut.

Setelah serangkaian proses, PPIP mendeklarasikan Hari Ayah Nasional pada 12 November 2006 di Pendapi Gede Balai Kota Solo. Deklarasi tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan. Melalui jaringan PPIP, kegiatan serupa digelar di Maumere dan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peringatan itu turut diramaikan dengan pengumpulan 100 surat anak yang kemudian dibukukan dalam karya berjudul “Kenangan untuk Ayah.” Buku tersebut menjadi piagam simbolis Hari Ayah Nasional dan dikirimkan langsung kepada Presiden RI kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Momentum ini menegaskan bahwa ayah memiliki peran emosional dan moral yang sama pentingnya dengan ibu, meski sering kali tidak diekspresikan secara verbal.

Puisi Hari Ayah Nasional 2025

Dikutip dari Sonora, berikut dua puisi yang dapat menjadi refleksi pada peringatan Hari Ayah Nasional 2025:

1. Pesan dari Ayah — Joko Pinurbo

(Seluruh isi puisi dituliskan sebagaimana sumber)
Datang menjelang petang, aku tercengang melihat Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam
di bawah pohon sawo di belakang rumah.

Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian.
“Jangan ganggu suamiku,” Ibu cepat-cepat meraih tanganku.
“Sudah dua hari ayahmu belajar menulis dan mengirim pesan untuk Ibu. Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.”

Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta, aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang.

Ayah memenuhi janjinya.
Pada suatu tengah-malam telepon genggamku terkejut mendapat kiriman pesan dari Ayah, bunyinya:
“Sepi makin modern.”
Langsung kubalas: “Lagi ngapain?”
Disambung:
“Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo di belakang rumah. Bertiga dengan bulan. Berempat dengan telepon genggam. Balas!”

Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan, lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu dan membaringkannya di ranjang Ibu.

2. Kerinduan — Niki Ayu Anggini

Ayah di mana engkau berada
Di sini aku merindukanmu
Mengiginkan untuk bertemu
Merindukan akan belaianmu

Kasih sayangmu selalu kurindukan
Engkau selalu hadir dalam mimpiku
Mimpi yang begitu nyata bagiku
Menginginkan engkau untuk kembali

Aku selalu mengharapkan engkau hadir
Menemani aku setiap hari
Menemani masa pertumbuhanku
Untuk tumbuh menjadi besar
Tanpa engkau di sisiku
Tanpa engkau yang menemani hari-hariku.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights