Washington, NusantaraTop.co – Kesepakatan awal atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan memicu beragam reaksi dari dunia internasional. Di satu sisi, sejumlah pemimpin dunia menyambutnya sebagai peluang perdamaian. Namun di sisi lain, kesepakatan tersebut menuai kritik tajam dari Israel dan sejumlah politikus Amerika Serikat.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyambut positif tercapainya kesepakatan tersebut. Ia bahkan menyebut langkah itu sebagai penyelesaian damai konflik antara Washington dan Teheran serta membuka jalan bagi dibukanya kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Para pemimpin negara-negara G7 juga memberikan dukungan terhadap kesepakatan tersebut. Mereka menilai perjanjian itu menjadi peluang bersejarah untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz akan mengakhiri ketidakstabilan yang selama ini berdampak besar terhadap perekonomian global.
Namun, respons berbeda datang dari Israel.
Mantan penasihat senior Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Mark Regev, mempertanyakan keseriusan Iran dalam menjalani negosiasi nuklir setelah Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi ekonomi.
Berdasarkan isi MoU, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat memberikan pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak mentah, produk minyak bumi, dan layanan perbankan terkait. Kedua negara kemudian akan memasuki masa negosiasi selama 60 hari terkait program nuklir Iran dan persediaan uranium yang diperkaya.
“Selat Hormuz dibuka dan Iran bisa kembali mengekspor minyaknya. Itu berarti uang kembali mengalir ke rezim Iran dan tekanan ekonomi hilang,” kata Regev.
Kritik serupa juga datang dari pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid.
“Netanyahu menjanjikan kemenangan bersejarah, tetapi yang kami dapatkan adalah krisis dengan Amerika, Hormuz terbuka bagi Iran, uang mengalir ke Garda Revolusi, dan Israel hanya menunggu di luar,” ujarnya.

Sejumlah media Israel bahkan menilai kesepakatan tersebut sebagai kemunduran strategis bagi negara itu. Pendiri Times of Israel, David Horovitz, menyebut perang AS-Israel melawan Iran berakhir dengan kegagalan akibat lemahnya kepemimpinan Washington.
Menurutnya, kesepakatan tersebut berpotensi membuat Israel lebih rentan dibandingkan sebelum konflik dimulai.
Meski demikian, tidak semua pihak di Israel menolak perjanjian tersebut. Mantan pejabat intelijen militer Israel, Danny Citrinowicz, menilai kesepakatan itu menunjukkan kembalinya pendekatan realistis Amerika Serikat terhadap Iran.
“Pemerintahan AS akhirnya mundur dari target maksimalis dan kembali ke pendekatan yang lebih terukur,” katanya.
Perdebatan yang sama juga terjadi di Amerika Serikat.
Senator Partai Republik Lindsey Graham yang dikenal dekat dengan Presiden Donald Trump sempat melunak setelah berdiskusi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff.
Menurut Graham, pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan dengan Iran merupakan keuntungan yang signifikan bagi Amerika Serikat.
Meski demikian, sejumlah senator Republik lainnya tetap kritis. Senator Bill Cassidy menilai kesepakatan tersebut gagal membendung ambisi nuklir Iran dan justru memberi sinyal bahwa ancaman terhadap Selat Hormuz dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar di masa depan.
Senator Ted Cruz bahkan menyebut Presiden Trump mendapatkan nasihat yang buruk terkait perjanjian tersebut.
Dari kubu Demokrat, kritik juga bermunculan. Mantan pejabat pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden, Susan Rice, menyebut kesepakatan itu sebagai kesalahan keamanan nasional terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
Senator Demokrat Adam Schiff menilai Iran memperoleh terlalu banyak keuntungan, mulai dari pelonggaran sanksi, akses dana yang dibekukan, hingga peluang ekspor minyak yang lebih besar.
Sementara itu, Donald Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai kemenangan besar bagi Amerika Serikat. Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Ghalibaf menyebutnya sebagai bukti kegagalan kebijakan Amerika terhadap Iran.
Trump menandatangani kesepakatan itu saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, Prancis. Tak lama setelahnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menandatangani dokumen yang sama di Teheran.
Kesepakatan tersebut kini menjadi awal dari proses negosiasi selama 60 hari yang akan menentukan masa depan program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.(red)












