SEOUL, NusantaraTop.co – Korea Utara kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah perairan timurnya pada Minggu (4/1). Peluncuran ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bertolak ke China untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, yang diperkirakan membahas isu program nuklir Korea Utara.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Joint Chiefs of Staff/JCS) dalam pernyataan resminya menyebutkan, pihaknya mendeteksi beberapa peluncuran rudal balistik dari wilayah ibu kota Korea Utara sekitar pukul 07.50 waktu setempat. Rudal-rudal tersebut dilaporkan terbang sejauh sekitar 900 kilometer sebelum jatuh ke perairan Laut Timur.
“Otoritas Korea Selatan dan Amerika Serikat saat ini masih menganalisis detail peluncuran tersebut,” kata JCS.
Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan bahwa peluncuran rudal balistik tersebut merupakan pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang Korea Utara melakukan aktivitas uji coba rudal balistik. Pemerintah Korea Selatan pun mendesak Pyongyang untuk segera menghentikan tindakan provokatif dan merespons upaya dialog demi perdamaian di Semenanjung Korea.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa sedikitnya dua peluncuran rudal telah dikonfirmasi. Ia menyebut aksi tersebut sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan dunia.
“Ini adalah masalah serius yang mengancam perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan, dan dunia,” ujar Koizumi kepada wartawan.
Militer Amerika Serikat dalam pernyataan di media sosial menyebutkan bahwa peluncuran rudal Korea Utara tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap personel atau wilayah AS maupun sekutunya. Namun, AS menegaskan tetap berkomitmen penuh terhadap pertahanan wilayahnya dan sekutu di kawasan Asia-Pasifik.
Pengamat menilai peluncuran ini merupakan bagian dari unjuk kekuatan militer Korea Utara menjelang rencana kongres Partai Buruh yang pertama dalam lima tahun terakhir. Forum tersebut diperkirakan akan menentukan arah kebijakan baru Pyongyang, termasuk sikap terhadap Amerika Serikat dan kemungkinan dibukanya kembali dialog yang selama ini mandek.
Korea Utara diketahui terus meningkatkan uji coba senjata untuk memperkuat arsenal nuklirnya sejak perundingan antara pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden AS saat itu, Donald Trump, gagal mencapai kesepakatan pada 2019. Pyongyang juga mempererat hubungan dengan Rusia dan China, yang dinilai meningkatkan posisi tawarnya di panggung internasional.
Peluncuran rudal ini juga bertepatan dengan lawatan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke China. Dalam kunjungan selama empat hari tersebut, Seoul berharap Beijing dapat memainkan peran konstruktif sebagai sekutu utama Korea Utara untuk mendorong perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.
Di hari yang sama, Korea Utara turut mengecam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut aksi AS sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara lain.
Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), juga melaporkan bahwa Kim Jong Un mengunjungi sebuah pabrik senjata untuk meninjau produksi senjata berpemandu presisi. Dalam kunjungan tersebut, Kim memerintahkan peningkatan kapasitas produksi hingga 2,5 kali lipat.(red)
Sumber : AP News
Editor : Pahotan M Hutagalung












