MancanegaraTeknologi & Digital

NASA Siapkan Misi DAPHNE untuk Prediksi Cuaca Antariksa dan Perlindungan Satelit

×

NASA Siapkan Misi DAPHNE untuk Prediksi Cuaca Antariksa dan Perlindungan Satelit

Sebarkan artikel ini
Keterangan foto: Ilustrasi artistik misi DAPHNE (Dynamic Atmosphere-Ionosphere Explorer) yang menggambarkan dinamika atmosfer dan ionosfer Bumi, dengan visualisasi aurora serta gelombang atmosfer yang memengaruhi lapisan atas Bumi. Kredit: Laboratory for Atmospheric and Space Physics / Mary Tostanoski.

Washington, NusantaraTop.co – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memilih konsep misi baru bernama DAPHNE (Dynamic Atmosphere-Ionosphere Explorer) untuk meneliti bagaimana cuaca antariksa dan dinamika atmosfer Bumi memengaruhi lingkungan ruang angkasa.

Misi ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan prediksi terhadap dampak cuaca antariksa pada berbagai teknologi penting, seperti sistem navigasi GPS, satelit orbit rendah Bumi, hingga keselamatan astronaut yang bertugas di luar angkasa.

NASA mengumumkan bahwa DAPHNE akan memasuki fase pengembangan B, yang mencakup perencanaan dan desain operasional penerbangan serta misi.

Misi tersebut akan menggunakan dua satelit kembar identik untuk mempelajari bagaimana perubahan di atmosfer bawah Bumi memengaruhi atmosfer bagian atas, wilayah tempat fenomena cuaca antariksa terjadi.

Dukung Misi ke Bulan dan Mars

Administrator Asosiasi Direktorat Misi Sains NASA, Nicky Fox, mengatakan DAPHNE merupakan bagian dari upaya memperkuat kesiapan Amerika Serikat dalam menghadapi dampak cuaca antariksa.

“NASA terus memperkuat kepemimpinan Amerika Serikat sebagai negara yang siap menghadapi cuaca antariksa. Dengan memahami atmosfer Bumi lebih baik, kita dapat memprediksi dan mempersiapkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari di Bumi maupun di luar angkasa,” ujar Fox.

Menurutnya, data yang dihasilkan DAPHNE akan sangat penting bagi perencanaan misi eksplorasi ruang angkasa di masa depan, termasuk saat NASA mengirim astronaut melampaui perlindungan medan magnet Bumi menuju Bulan, Mars, dan tujuan lainnya.

Teliti Lapisan Atmosfer Penting

Misi DAPHNE akan melakukan pengukuran secara simultan terhadap kecepatan angin netral, suhu, dan komposisi atmosfer di wilayah termosfer.

Termosfer dan ionosfer merupakan lapisan transisi antara atmosfer netral Bumi dan plasma terionisasi yang mendominasi ruang angkasa.

Lapisan tipis yang menyelimuti Bumi tersebut terus bergerak dan berubah akibat aktivitas Matahari, dinamika atmosfer bawah, serta kondisi ruang angkasa di sekitar Bumi.

Melalui pengamatan ilmiah tersebut, para peneliti berharap dapat memahami hubungan antara atmosfer bawah dan cuaca antariksa secara lebih mendalam sehingga kemampuan prediksi dapat semakin akurat.

Dipimpin Ilmuwan Universitas Colorado

Misi DAPHNE dipimpin oleh Aimee Merkel dari Laboratory for Atmospheric and Space Physics di University of Colorado Boulder.

Penelitian ini akan mengintegrasikan data energi dari atmosfer bawah guna meningkatkan model prediksi cuaca antariksa yang digunakan berbagai lembaga antariksa dan operator satelit di dunia.

Peluncuran Ditargetkan Setelah 2029

NASA menjadwalkan misi DAPHNE menjalani proses tinjauan konfirmasi pada tahun 2027 untuk mengevaluasi perkembangan proyek serta ketersediaan pendanaan.

Apabila memperoleh persetujuan akhir, total biaya misi diperkirakan tidak melebihi 250 juta dolar AS, di luar biaya peluncuran, berdasarkan nilai dolar fiskal tahun 2023.

NASA menargetkan peluncuran DAPHNE dilakukan paling cepat pada tahun 2029.

Misi ini merupakan hasil studi konsep yang diajukan melalui program DYNAMIC (Dynamical Neutral Atmosphere-Ionosphere Coupling) dan akan berada di bawah pengawasan program Solar Terrestrial Probes yang dikelola oleh NASA Goddard Space Flight Center.

Dengan hadirnya DAPHNE, NASA berharap dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai interaksi antara atmosfer Bumi dan lingkungan antariksa, sekaligus meningkatkan kemampuan dunia dalam menghadapi berbagai risiko cuaca antariksa terhadap teknologi modern.(red)

Sumber: NASA
Editor: Pahotan M. Hutagalung

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights