Maros, NusantaraTop.co – Tim SAR gabungan terus melakukan upaya pencarian pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di kawasan Gunung Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejumlah fakta penting mulai terungkap sejak proses pencarian dilakukan.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dinyatakan hilang kontak saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Sabtu (17/1/2026) siang. Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 itu diketahui tengah melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Makassar.
Dalam proses pendekatan ke bandara tujuan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. Air Traffic Control (ATC) kemudian memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
Berikut sejumlah fakta terbaru yang terungkap terkait insiden tersebut:
Serpihan hingga Buku Pilot Ditemukan
Tim SAR gabungan menemukan enam serpihan yang diduga kuat merupakan bagian dari pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung. Temuan tersebut pertama kali diketahui oleh para pendaki dan telah dievakuasi.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangkep, Muhammad Arsyad, mengatakan serpihan tersebut di antaranya menyerupai dinding luar pesawat. Selain itu, tim juga menemukan dokumen yang diduga merupakan buku pilot.
Serpihan Diamankan di Polres Pangkep
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Bangun Nawoko menyampaikan bahwa seluruh serpihan pesawat yang ditemukan telah diamankan di Mapolres Pangkep untuk proses identifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
Ia menambahkan, tim SAR gabungan telah membentuk posko pencarian di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, guna mempercepat pergerakan tim di lapangan. Pencarian lanjutan juga melibatkan satu unit helikopter Caracal milik TNI AU.
Tiga Pegawai KKP Menjadi Penumpang
Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono, mengonfirmasi bahwa terdapat tiga pegawai KKP yang menjadi penumpang dalam penerbangan tersebut. Ketiganya diketahui sedang menjalankan tugas pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui patroli udara.
Ketiga pegawai tersebut masing-masing bernama Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal dengan jabatan berbeda dalam misi pengawasan KKP.
Penerbangan Disebut Sesuai Prosedur
Pihak PT Angkasa Pura Kantor Cabang Bandara Adisutjipto Yogyakarta menegaskan bahwa proses keberangkatan pesawat ATR 42-500 telah melalui seluruh prosedur keamanan dan operasional yang berlaku.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Adisutjipto, Kolonel Pnb. Wibowo Cahyono Soekadi, menyebut pesawat lepas landas pada pukul 08.08 WIB menuju Makassar dengan total 10 orang kru dan penumpang.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, juga menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat kejadian relatif baik dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer dan cuaca dilaporkan sedikit berawan.
KNKT Duga Pesawat Tabrak Gunung
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan dugaan awal bahwa pesawat ATR 42-500 kemungkinan menabrak gunung. Dugaan tersebut diperkuat dengan tidak berfungsinya Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, dalam kondisi benturan keras seperti tabrakan dengan gunung, perangkat ELT sangat mungkin rusak sehingga tidak dapat memancarkan sinyal darurat.
Hingga kini, proses pencarian bangkai pesawat dan korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan melibatkan berbagai unsur, baik darat maupun udara. Pemerintah berharap upaya pencarian dapat segera menemukan titik terang atas insiden tersebut.(red)












