Batangtoru, NusantaraTop.co – Sebuah tayangan video yang beredar di media sosial menyoroti kondisi kawasan perbukitan di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara. Dalam video tersebut, seorang pengguna bernama Vivi melakukan penelusuran lewat citra satelit Google Maps dan menunjukkan adanya area perbukitan yang tampak gundul diduga akibat aktivitas pembukaan lahan.
Dalam pantauan tersebut, kawasan yang berada di sekitar jalur Bukit Barisan itu terlihat mengalami perubahan tutupan lahan dengan warna putih dan kuning mencolok pada peta satelit, yang disebut sebagai area tanpa pepohonan. Sementara itu, permukiman warga berada tepat di bawah lereng-lereng yang tampak terbuka tersebut.

“Kalau kita buka Google Maps, terlihat jelas Sumatera Utara, khususnya daerah Batang Toru. Ini yang putih-putih ini sudah gundul, hutan yang gundul. Sedangkan pemukiman warga ada di bawah,” ujar Vivi dalam tayangan videonya.
Vivi juga menyebutkan bahwa di kawasan itu terdapat sejumlah titik yang tercantum sebagai lokasi perusahaan, mulai dari kantor PT Horas Nauli, PT MPD Project, PT Pelangi, hingga area yang ditandai sebagai Martabe lokasi tambang emas dan perak yang dioperasikan PT Agincourt Resources. Dalam videonya, ia mengaitkan pembukaan lahan luas dengan risiko bencana, mengingat masyarakat berada di zona bawah perbukitan.

“Ini daerah pegunungan, ini hutan. Tapi dikeruk. Makanya wajar saja banjirnya mengerikan kalau wilayah seperti ini dibuka. Lahan yang dibuka jauh lebih luas dibandingkan pemukiman warga,” kata Vivi.
Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi lingkungan di kawasan tersebut. “Mudah-mudahan ke depan ada kebijakan pemerintah yang memperhatikan keselamatan masyarakat,” tutupnya.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai penyebab utama banjir maupun longsor di wilayah tersebut. Namun, sorotan warga terhadap perubahan tutupan lahan di Batang Toru kembali memunculkan diskusi publik mengenai pentingnya pengawasan aktivitas industri ekstraktif dan pengelolaan lingkungan di daerah rawan bencana.(red)
Editor : Pahotan MH












