DUBAI, NusantaraTop.co — Israel dan Iran kembali saling melancarkan serangan balasan pada Senin (8/6/2026) dini hari, memicu kekhawatiran meningkatnya perang besar di kawasan Timur Tengah. Di saat bersamaan, kelompok Houthi Yaman juga meluncurkan serangan ke Israel dan mengancam kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel di Laut Merah.
Militer Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran bagian tengah dan barat sebagai respons atas serangan rudal dari Teheran. Iran kemudian membalas dengan beberapa gelombang serangan baru.
Ledakan terdengar di wilayah Israel tengah saat sistem pertahanan udara berusaha mencegat rudal yang datang dari Iran. Sirene peringatan juga terdengar hingga ke wilayah Yordania.
Pasukan Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan dua pangkalan militer Israel dalam operasi yang mereka sebut “Operation Nasr” atau Operasi Kemenangan. Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan Israel terhadap situs radar di tiga wilayah Iran.
Ketegangan meningkat setelah Iran sebelumnya memperingatkan akan melakukan pembalasan menyusul serangan Israel ke wilayah pinggiran selatan Beirut beberapa hari lalu.
Konflik ini menandai hari ke-100 perang Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior Iran.
Perang sempat mereda setelah gencatan senjata pada 8 April lalu. Namun upaya perdamaian terus menghadapi tantangan, termasuk ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia, serta konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Situasi semakin memanas setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran ikut terlibat dalam konflik.
Juru bicara Houthi Brigjen Yahya Saree menyatakan kelompoknya kembali menargetkan Israel dan kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara tersebut di Laut Merah.
Sebelumnya, selama perang Israel-Hamas di Gaza, kelompok Houthi tercatat telah melakukan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden.
Ketegangan tersebut mengancam jalur pelayaran internasional yang setiap tahunnya dilalui barang senilai sekitar US$1 triliun sebelum konflik pecah.


Di tengah eskalasi militer, upaya diplomasi internasional terus dilakukan untuk menyelamatkan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Sejumlah negara seperti Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar disebut mendesak Amerika Serikat agar menekan Israel menghentikan serangan ke Iran dan Beirut. Mereka juga meminta Iran menghentikan serangan ke Israel.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak segera melakukan pembalasan atas serangan rudal Iran.
“Saya yang menentukan langkahnya. Netanyahu tidak menentukan semuanya,” kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times.
Trump juga mengaku tidak senang dengan serangan Israel di Lebanon yang menurutnya tidak dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.
Di Iran, televisi pemerintah melaporkan ledakan terdengar di sejumlah kota seperti Isfahan, Karaj, Tabriz, dan Teheran. Pemerintah Iran langsung menutup wilayah udara di sekitar Bandara Internasional Imam Khomeini setelah serangan Israel terjadi.
Media Iran juga melaporkan serangan Israel menghantam sebuah pabrik petrokimia di Mahshahr, Provinsi Khuzestan.
Militer Israel kemudian mengonfirmasi serangan tersebut.
Sementara di Arab Saudi, sirene peringatan rudal sempat berbunyi di wilayah Al Kharj yang menjadi lokasi pangkalan udara militer yang digunakan pasukan Amerika Serikat. (AP)












