Ekonomi & BisnisHukumMancanegaraTeknologi & Digital

Kejatuhan Taipan Muda Chen Zhi, Pendiri Prince Group Diduga Dalangi Penipuan Online Global

×

Kejatuhan Taipan Muda Chen Zhi, Pendiri Prince Group Diduga Dalangi Penipuan Online Global

Sebarkan artikel ini
Ekstradisi Chen Zhi ke China pekan ini menandai kejatuhan dramatis seorang taipan muda yang dituduh mengoperasikan jaringan penipuan online global. (Dok./Prince Holding Group)

NusantaraTop.co – Penangkapan dan ekstradisi pengusaha China–Kamboja, Chen Zhi, ke China pada pekan ini menandai kejatuhan dramatis seorang taipan muda yang dituding mengoperasikan jaringan penipuan online brutal dan pencucian uang lintas negara berskala global.

Chen Zhi, sosok tertutup yang selama bertahun-tahun diburu aparat penegak hukum di berbagai negara, akhirnya diamankan melalui kerja sama penyelidikan antara pemerintah Kamboja dan China terkait kejahatan lintas negara.

Diduga Dalangi Penipuan Online dan Pencucian Uang

Mengutip laporan Reuters, Chen mendirikan Prince Group pada usia 27 tahun. Konglomerasi yang berbasis di Kamboja itu bergerak di berbagai sektor legal, mulai dari properti, perbankan, hingga maskapai penerbangan. Namun, jaksa Amerika Serikat menuding grup tersebut digunakan sebagai kedok skema penipuan investasi kripto yang merugikan korban di seluruh dunia hingga miliaran dolar.

Dalam dakwaan yang diajukan di pengadilan Brooklyn tahun lalu, Chen bersama jajaran eksekutifnya disebut mengembangkan Prince Group—yang memiliki lebih dari 100 entitas bisnis di lebih dari 30 negara—menjadi salah satu organisasi kejahatan transnasional terbesar di Asia. Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut sejumlah pusat penipuan tersebut menggunakan tenaga kerja paksa.

Hingga Kamis, Reuters belum berhasil menghubungi Chen, Prince Group, maupun perwakilan resminya. Prince Group sebelumnya membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada perusahaan dan pendirinya.

Pengaruh Politik dan Gaya Hidup Mewah

Jaksa AS juga menuding Chen memanfaatkan pengaruh politik serta praktik suap untuk menghindari proses hukum selama bertahun-tahun. Kasino dan bisnis legal lainnya diduga digunakan untuk mencuci dana hasil kejahatan. Ia bahkan diklaim memiliki komunikasi dengan aparat keamanan negara China.

Uang hasil kejahatan tersebut disebut dihamburkan untuk membiayai gaya hidup mewah, termasuk perjalanan kelas atas, jam tangan mahal, kapal pesiar, jet pribadi, rumah liburan, koleksi barang mewah, hingga karya seni bernilai tinggi, termasuk lukisan Picasso yang disimpan di New York.

Riwayat Kewarganegaraan dan Masa Lalu Kontroversial

Chen Zhi lahir pada 1987 di Provinsi Fujian, China. Ia memulai karier bisnisnya dari usaha warnet dan pusat permainan di Fuzhou. Biografi lama di situs Prince Group menyebut Chen sebagai “bakat bisnis muda”.

Pada 2014, Chen memperoleh kewarganegaraan Kamboja melalui skema donasi negara senilai US$ 250.000, dan kemudian dianugerahi gelar kehormatan “Neak Oknha” (taipan) setelah memberikan sumbangan minimal US$ 500.000 kepada pemerintah.

Saat diekstradisi ke China, pemerintah Kamboja menyatakan telah mencabut kewarganegaraan Chen. Meski demikian, otoritas AS menyebut Chen sebelumnya telah melepas kewarganegaraan China. Pernyataan resmi China dan Kamboja tetap menyebutnya sebagai warga negara China.

Dakwaan AS juga mengungkap Chen sempat memegang kewarganegaraan Vanuatu, Saint Lucia, dan Siprus, serta pernah tinggal di Kamboja, Singapura, Taiwan, dan Inggris.

Pada 2014, Chen pernah dilaporkan diculik dari sebuah hotel di Thailand oleh sekelompok pria yang mengaku memiliki surat perintah penangkapan dari China. Ia dipaksa masuk ke sebuah SUV hitam dan kemudian dilepaskan di Kamboja. Insiden tersebut tidak pernah dilaporkan ke otoritas Thailand.

Filantropi dan Penangkapan Dramatis

Di sisi lain, situs resmi Prince Group menggambarkan Chen sebagai pengusaha terhormat dan filantropis. Ia diklaim mendirikan program beasiswa bagi 400 mahasiswa Kamboja dan menyumbangkan lebih dari US$ 16 juta untuk kegiatan sosial.

Namun, Chen nyaris tak terlihat di ruang publik selama bertahun-tahun hingga media pemerintah China menayangkan video penangkapannya. Dalam video tersebut, Chen terlihat diborgol dan kepalanya ditutup, dikawal ketat oleh aparat bersenjata saat diekstradisi dari Kamboja ke China.

Sorotan Penegakan Hukum Global

Kasus Chen Zhi mencerminkan sisi gelap ekspansi bisnis digital lintas negara, di mana konglomerasi legal diduga digunakan sebagai kedok kejahatan siber berskala global. Meski Prince Group membantah seluruh tuduhan, dakwaan Amerika Serikat, temuan PBB, serta langkah tegas China dan Kamboja menunjukkan besarnya perhatian internasional terhadap jaringan penipuan online dan pencucian uang.

Penangkapan dan ekstradisi Chen menandai babak baru penegakan hukum lintas negara, sekaligus menjadi peringatan bahwa status taipan, kewarganegaraan ganda, dan citra filantropi tidak menjamin kekebalan dari jerat hukum.(red)

Sumber : Reuters

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights