Jakarta, NusantaraTop.co – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Penyakit ini diketahui tersebar di kawasan Eropa dan Asia, termasuk Indonesia.
Kemenkes menegaskan hantavirus tipe HFRS berbeda dengan Hantapulmonary Syndrome (HPS) yang banyak ditemukan di wilayah Amerika. Tipe HPS inilah yang dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia di kapal pesiar MV Hondius dan salah satunya berasal dari Andes Virus.
Dalam laporan Kemenkes bertajuk Penyakit Virus Hanta Tipe HPS di Kapal Pesiar MV Hondius, disebutkan bahwa orthohantavirus memiliki dua bentuk klinis utama, yakni HFRS dan HPS.
Kemenkes mencatat tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) untuk tipe HFRS yang ditemukan di Indonesia berada pada kisaran 5 hingga 15 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan CFR tipe HPS yang mencapai sekitar 60 persen pada kasus di MV Hondius.
Gejala HFRS umumnya meliputi demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau tubuh terasa lemas, hingga ikterik atau jaundice yang menyebabkan tubuh tampak menguning. Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara satu hingga dua minggu.
Sementara itu, tipe HPS memiliki gejala berupa demam, nyeri badan, lemas, batuk, hingga sesak napas dengan masa inkubasi sekitar 14 hingga 17 hari.
Selain mengungkap jenis virus yang ditemukan di Indonesia, Kemenkes juga menyebut keberadaan hantavirus telah terdeteksi pada reservoir tikus dan celurut di 29 provinsi berdasarkan Studi Rikhus Vektora.
Pemerintah menyatakan faktor risiko utama penularan berasal dari kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan tersebut.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, serta rutin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer untuk mencegah penularan penyakit. (red)










