Mesuji, NusantaraTop.co – Sebuah proyek irigasi di Desa Bandar Anom, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji, Lampung, menjadi sorotan publik setelah dinilai tidak memberikan manfaat bagi masyarakat.
Seperti dilihat NusantaraTop.co, Senin (4/5/2026), dalam sebuah tayangan video yang viral di media sosial, kondisi proyek irigasi tersebut tampak memprihatinkan. Proyek bernilai fantastis Rp97,8 miliar itu justru terlihat tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Video yang diunggah oleh seorang warga bernama Andi Prabowo memperlihatkan bentuk saluran irigasi yang tidak biasa. Alih-alih mengikuti kontur tanah seperti umumnya, saluran tersebut tampak “menggantung” di atas lahan pertanian warga.
Dalam tayangan itu, perekam juga menyampaikan sindiran tajam terhadap proyek tersebut. Ia bahkan menyelipkan uang pecahan Rp50 ribu di beberapa bagian konstruksi yang mengalami kerusakan, sembari menyebut proyek itu “bagus” secara satir.
Aksi tersebut menjadi bentuk kritik terhadap kualitas pembangunan yang dinilai tidak sesuai dengan nilai anggaran yang digelontorkan.
Dikutip dari Kbni New, proyek yang seharusnya menjadi solusi pengairan sawah justru menuai keluhan warga karena tidak berfungsi dan terkesan terbengkalai. Hingga saat ini, tidak terlihat adanya aliran air yang mengaliri lahan pertanian warga.
“Ini proyek apa dan untuk apa? Siring dibangun di atas lahan pertanian warga, tapi manfaatnya tidak ada. Air tidak mengalir, bahkan sudah mulai rusak. Lalu untuk apa proyek ini dibangun?” ujar salah satu warga dalam video tersebut.
Selain tidak berfungsi, sejumlah bagian bangunan juga dilaporkan mulai mengalami kerusakan. Kondisi ini memicu pertanyaan besar terkait perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek tersebut.
Padahal, sebelumnya masyarakat menaruh harapan besar terhadap proyek bantuan pemerintah ini. Para petani berharap ketersediaan air untuk sawah dapat terpenuhi sehingga hasil panen meningkat.
Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Proyek yang diharapkan menjadi penopang sektor pertanian kini disebut-sebut mangkrak dan terkesan mubazir.
Warga Desa Bandar Anom pun mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka meminta adanya kejelasan terkait status proyek, termasuk pihak yang bertanggung jawab atas kondisi tersebut.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pembangunan infrastruktur, terutama yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat seperti irigasi pertanian.(red/tim)
Editor : Pahotan M Hutagalung












